Sunday, February 19, 2006

Lo pikir ngomong jujur itu gampang?

Tanggal: 18 Februari 2006   Waktu: 02.00 WITA

Setelah kita pulang dari hotel tempat adik gue bulan madu, ban motor kita kempes di tengah jalan. Jarak dari lokasi ban kempes ke rumah kira-kira satu setengah kilometer. Alhasil kita sukses berjalan kaki di tengah malam buta, di antara perumahan jarang-jarang dan persawahan sunyi dalam situasi suami ngedorong motor dan gue ngegendong Matanlo. Sementara itu saudara-saudara… di Bali, makhluk hidup berjudul “anjing” adalah pentolan, preman serta penguasa jalanan di malam hari. Jadi waktu kita lagi enak-enaknya olah raga malam, tiba-tiba kita dikejutin sama satu suara gonggongan. Terus disusul gonggongan lain dan kemudian kita udah dikepung pasukan anjing dari empat penjuru. Dalam keadaan kritis itu kita memutuskan untuk menaiki motor yang bannya kempes. Jadilah dengan keadaan ban motor kempes, laju motor pas-pasan dan ogel-ogel di jalanan sepi, gue, suami dan Matanlo dikejar-kejar segerombolan anjing berwajah seram dan beraura horor.

Sukurlah untuk sementara kita berhasil lolos dengan selamat. Tapi perseteruan kita sekeluarga dengan makhluk yang nama latinnnya Canis ini belum selesai. Waktu kita sampai di mulut gang, kita terpaksa harus turun dari motor karena jalanan di gang menuju rumah gue yang di tengah sawah ini nggak diaspal dan bergelombang. Jadi mau nggak mau kita harus jalan kaki (lagi!) yang artinya kita harus fight face to face dengan para anjing tetangga sepanjang 150 meter. Setiap langkah kita diiringi dengan suara gonggongan anjing. Suami gue ngedorong motor sambil megangin batu buat nakut-nakutin anjing, sementara gue jalan di depan ngegendong Matanlo sambil berteriak panik tiap ada anjing yang mencoba mengejar. Acara kejar-mengejar pun berakhir setelah kita masuk rumah.

Kebetulan belakangan ini gue lagi doyan uring-uringan (mungkin penyebabnya karena lagi error atau lagi PMS kali yey!). Jadi begitu sampai di rumah dengan emosi berapi dan semangat menggebu, gue menyalahkan suami karena udah bikin ban motor kempes serta gak berusaha keras buat menyelamatkan gue dan Matanlo yang duduk di belakang motor dan hampir digigit anjing. Biasanya kita langsung membahas suatu masalah saat itu juga, karena gue paling males membiarkan suatu masalah jadi panjang dan berlarut-larut. Tapi jam sudah menunjukkan waktu “imsak”, gue terpaksa membiarkan suami tidur di kamar sebelah (deuuu, pisah ranjang nih ceritanya…!)

Tanggal: 18 Februari 2006 Waktu: 08.00 WITA

Setelah suami balik dari tambal ban motor, gue menyambut suami dengan perasaan bersalah dan wajah penuh penyesalan. Karena suasana hati udah lebih enak dan karena kepala udah gak “panas” lagi, kita berdua mulai sharing, diskusi dan mencari solusi. Kita berdua mulai menguraikan satu persatu masalah-masalah kita sampai akhirnya menemukan akar permasalahannya, yaitu: GUE LAGI JENUH SAMA MATANLO. What the…? Impossible! Orang yang kenal gue pasti gak bakal percaya kalo seorang Liza Irman, bunda yang baik, yang gak pernah marah sama anaknya, yang punya kesabaran ekstra menghadapi anaknya sendiri, yang punya rasa sayang luar biasa sama Matanlo… bisa juga jenuh??? Bo`ong banget! Yup… tapi itulah kenyataannya dan jujur aja, berat banget buat mengakui ke suami kalo gue lagi males ngurusin Matanlo. Dibutuhkan keberanian besar buat mengakui apa yang kita rasakan ke orang lain karena di saat yang bersamaan kita juga harus mengakuinya pada diri kita sendiri.

Karena sakit estafet (dimulai dari Matanlo yang sakit, trus gue, trus Matanlo lagi, trus suami, dan ditutup dengan Matanlo lagi) dan ditambah dengan kepergian ke Jakarta yang sangat nggak kondusif, ngebuat kita udah hampir sebulan nggak pernah membicarakan kegelisahan-kegelisahan kita dan apa yang kita rasakan masing-masing dari hati ke hati. Dari hasil pembicaraan ini, ketahuan kalo sumber dari rasa sebel suami ke gue adalah akibat dia ngerasa gue nggak tulus ngurusin dia sewaktu sakit.

Menurut suami gue, waktu dia sakit gue bukannya melayani dia dengan penuh kelembutan, tapi malah ngomel-ngomel maksa dia cepat sembuh. Sehingga waktu tadi malam gue uring-uringan dan menyalahkan suami abis dikejar anjing, suami langsung mengaitkan dengan perlakuan gue saat dia sakit. Trus kejadian-kejadian kecil yang bikin gue ngomel seperti: waktu dia lupa nutup pintu, gak sengaja numpahin air, mencet odol dari tengah dan bukan dari ujung seperti mau gue, secara manis berkolaborasi membentuk citra buruk gue di mata suami. Suami lalu menyimpulkan kalo gue sayang sama dia cuma saat dia bersikap, berkelakuan dan bertindak sesuai mau gue. Sebaliknya waktu dia nggak mampu memenuhi harapan gue, gue bakal seenaknya ngomel-ngomel, maki-maki, mendesak, memojokkan dan menyalahkan dia.

Well, itu perasaan suami ketika belum tau alasan apa sebenarnya yang memicu sikap nyebelin gue, meskipun dia tau pasti ada hal lain yang belum terselesaikan sehingga menyebabkan sikap nyebelin gue itu keluar. Untuk itulah kita perlu bicara.

Lalu gue pun ngejelasin apa yang gue rasain. Gue ngerasa suami gak peka dan gak ngertiin gue yang lagi jenuh ngurusin Matanlo. Sebenarnya waktu suami lagi sakit, gue lagi ngerasa bosen sama Matanlo, tapi apa yang gue rasakan itu belum sempet gue ceritain ke suami. Gue udah ngerasain hal ini sejak Matanlo sakit dan maunya nempel terus sama gue dan disaat bersamaan gue juga harus terus beradaptasi dengan perkembangan kognitifnya. Sejak itu gue men-deny rasa bosen, capek, jenuh dan rasa-rasa lainnya yang harom diungkapkan, karena gue pengen Matanlo punya bunda yang “beda” dari bunda-bunda lain di seluruh dunia. Gue pengen Matanlo punya bunda yang asik yang bisa diajak ngobrol, curhat, diskusi dan gue juga pengen jadi sahabat baiknya. Selain itu gue juga pengen Matanlo ngerasain bahwa tempat yang paling nyaman di seluruh dunia adalah rumahnya sendiri karena dari kecil gue gak pernah merasakan itu semua.

Padahal gue pengen membesarkan Matanlo jadi manusia. Tapi gue lupa menyadari bahwa karena gue pengen selalu terlihat “baik” di mata Matanlo, ketika gue lagi dilanda kejenuhan tanpa sadar gue berpura-pura baik. Akibatnya gue malah gampang emosi, sering uring-uringan dan menyalahkan orang lain. Akibatnya hubungan gue sama suami terganggu, hubungan gue sama Matanlo terganggu dan hubungan gue dengan diri gue sendiri pun ikut-ikutan terganggu. Padahal ada kalanya gue mencapai titik jenuh (manusiawi toh!) dan pada saat gue berani mengakui hal tersebut, keadaan justru malah jadi jauh lebih baik.

Dengan kita ngomong secara jujur dan nggak terperangkap dalam dogma-dogma dan norma yang mengharuskan ini itu dan men-judge seperti ini buruk seperti itu baik, suami jadi ngerti kenapa akhir-akhir ini gue ngomel-ngomel terus. Matanlo gak rewel lagi karena suasana hati bunda-nya udah normal dan gue pun jadi lega karena gue jadi lebih sayang sama Matanlo. Pengakuan tadi bukan ngebuat kejenuhan gue jadi suatu “pembenaran”, tapi justru jadi suatu “kesadaran” kalau mau membesarkan manusia menjadi manusia, jadilah manusia.

Sejak awal menikah kita berdua sadar sesadar-sadarnya kalo dalam perjalanan rumah tangga, konflik seperti ini bakal sering terjadi. Keadaan seperti ini akan berulang terus-menerus karena kita hidup dalam suatu sistem, norma-norma dan aturan masyarakat yang gak bisa ditawar-tawar lagi. Sehingga mau gak mau, suka gak suka kita harus tetap memakai “topeng” yang berbeda-beda buat survive. Dengan kesadaran seperti itulah sejak awal kita berkomitmen untuk selalu membicarakan dengan jujur setiap ketidaknyamanan yang kita rasakan, baik itu terhadap pasangan, anak dan lingkungan. Karena kalau masalah-masalah yang dihadapi gak buru-buru diselesaikan, hasilnya ketidaknyamanan tadi bakalan bertumpuk-tumpuk. Ternyata dibalik masalah A, ada masalah B yang belum terselesaikan. Setelah selesai masalah B, ternyata masih ada masalah C yang lebih rumit lagi dibalik masalah B. Karena itu kita selalu ‘me-refresh‘ kebersamaan kita setiap kali kejenuhan dan kejengkelan muncul. Soalnya bukan apa-apa, kita berdua sadar setiap ledakan emosi dan kejengkelan nggak pernah berdiri sendiri dan muncul tiba-tiba, tapi selalu hanya berupa “puncak gunung es” yang terkait dan sambung-menyambung dengan masalah dan kejengkelan sebelumnya.

Nah… kita aja yang baru 2 minggu gak sempat ngobrol terbuka, udah banyak masalah yang bikin uring-uringan, apalagi kehidupan suami istri lain yang setiap hari pergi pagi pulang malem? Ketemu cuma 3-5 jam dan pembicaraan cuma sekedarnya. Bayangkan seperti apa dalam dan besarnya dasar “gunung es” masalah dan kejengkelan yang nggak kelihatan akibat sama sekali nggak pernah dikomunikasikan seumur pernikahan atau juga di-deny keberadaannya karena terikat/terjebak norma. Entah itu namanya istri harus patuh sama suami, suami harus wibawa di depan istri dan anak, orang tua harus sayang sama anak, anak harus hormat sama orang tua dan berjuta-juta keharusan-keharusan lainnya. Kebayang juga gak kehidupan artis yang terbiasa jadi “tontonan”? ada masalah dikit, ujung-ujungnya cerai karena si artis mikir: emang lo pikir lo siapa? Gue bisa dapetin 1000 orang kaya lo secara gue dipuja banyak orang. Ya sudahlah EGO berbicara…

Dengan belajar berani mengakui pada orang lain dan (terutama) pada diri sendiri apa yang sebenarnya kita rasakan, suatu saat kita menghadapi persoalan yang sama, kita udah langsung ngerti apa yang harus dilakukan. Jadi gak perlu buang-buang waktu dengan ngomel sana sini dan menyalahkan semua hal karena seolah-olah semua kelihatan salah di mata lo.

Mengutip dari salah satu buku yang pernah gue baca:

Ketakutan untuk berkata benar, menggunakan kemerdekaan berpikir & melakukan pilihan merupakan penyakit yang banyak melanda orang di banyak masyarakat saat ini.”

Nawal El Saadawi, catatan dari penjara perempuan, hal.viii, kata pengantar oleh. W.Hafidz.


Posted by Liza in 06:53:14 | Permalink | Comments (3)

Friday, February 3, 2006

Ticket to the hell…!

Hari sabtu ini (4 Februari) kita sekeluarga bakal pergi ke Jakarta, karena adik perempuan gue bakalan merit (kayanya udah jadi kesepahaman antara gue dan adik-adik, kalo mau bebas artinya lo kudu nikah dulu). Untuk sebagian orang, Jakarta adalah tempat impian yang wajib dikunjungi sebelum lo mati (katanya sih supaya gak mati penasaran!), tapi buat gue, Jakarta gak lebih dari SAMPAH.

Pertama, gue ke Jakarta karena menghadiri pernikahan adik gue yang artinya bakal ada resepsi dimana banyak sodara dan kerabat yang dateng yang kerjaannya cuma bisa ngerumpi, ngomentarin orang dan menjelek-jelekkan kehidupan orang lain. Kebiasaan yang juga ngebikin gue mual adalah kalo ada yang mau nikah, biasanya bakalan repot, ribut dan ribet. Yang jadi pembahasan bukannya hal esensial seperti “apa bener pasangan ini yang lo pilih buat jadi temen hidup lo seumur hidup?” atau “apa udah menyamakan visi dan misi dalam berumah tangga?” atau “apa pernikahan ini memang menyatukan perbedaan atau karena dikejar umur atau karena meneruskan garis keturunan saja?”. Tapi biasanya yang dipikirin dan diurusin cuma seputar hal-hal yang gak penting, seperti bagaimana model kebaya pengantin, jenis makanan apa aja yang bakal dihidangkan, undangan seperti apa yang bakal dikirim, seserahan apa saja yang bakal dibuat dan hal-hal yang sepele yang justru bisa ditanganin sama pihak ketiga, misalnya Wedding Organizer. Nah jadilah lagi-lagi suatu pernikahan cuma sebagai ajang pamer dan ngasih makan orang doang! Ironisnya bahkan suatu kematian yang menjadi beban untuk keluarga yang ditinggalkan, malah tetap harus ngasih makan orang-orang yang dateng yang ngakunya “turut berduka cita”, padahal kenal juga engga sama yang koit. Beban semakin bertambah… Makanya kita malah ngerasa udah buang energi, buang waktu dan buang duit juga buat dateng ke Jakarta. Saking aja yang nikah adik tersayang.

Kedua, kalo denger kata “JAKARTA” yang ada di benak gue adalah: Macet, Bising, Saling sikut, selalu terburu-buru tapi gak pernah on time, Tatapan remeh, Snobby, Acuh dengan sekitar tapi usil ngurusin urusan orang dan hal-hal lainnya yang cuma kita bisa temuin di Neraka kelak. Makanya gue heran sama orang-orang yang hari gini masih doyan berbondong-bondong dateng ke Jakarta.

Ketiga, JAKARTA adalah “himpunan penyakit”, baik penyakit fisik maupun mental. Isinya orang sakit semua sih! Kalaupun ada yang dateng ke Jakarta dalam kondisi fit, begitu sampai di sana gak lama kemudian pasti bakalan sakit. Kadang-kadang penyakitnya sering tidak terdeteksi karena urusannya sama “Syaraf” dan “nurani”. Kalaupun keliatan bentol-bentol di badan, atau merah-merah di sekujur tubuh… analisis dokter palingan Psikosomatis, tapi penyebabnya apa ya… kudu bayar lagi buat ke Psikolog, sukur-sukur dapet Psikoanalisis yang paten.

Keempat, karena kita terbiasa dengan kehidupan di Bali dimana orang saling menyapa, saling ngobrol meski gak kenal dan lain hal dimana terdapat energi kehidupan, Jakarta justu sebaliknya. Boro-boro saling nyapa, orang ngerasa adalah ketidakwajaran sekedar memberi senyuman atau memberikan pertanyaan umum semacam: “apa kabar?” Mungkin hal-hal seperti itu cuma ada di buku pelajaran aja kali yey, atau budaya tolong menolong cuma bisa ditemuin di reality show. Jadinya ya… kepekaan empati tadi keliatan banget cuma dibuat-buat dengan wajah host yang dibikin se-prihatin mungkin.Kepalsuan dan  ketidaktulusan yang gue temui di Jakarta ngebuat energi gue terserap habis dan seringkali baru beberapa jam di Jakarta, gue udah ngerasa capek yang teramat sangat, letih luar biasa dan lelah lesu kopong.

Makanya, males banget berlama-lama di Jakarta karena jangankan gue, anak gue aja yang masih bayi waktu dibawa ke Jakarta tiba-tiba berubah rewel luar biasa (mungkin karena anak kecil lebih sensitif dan lebih peka kali yey!). Dan semakin lama gue di Jakarta, bisa-bisa kita sekeluarga bakal “sakit” juga.

PS: Buat jakarta-ers yang merasa tersinggung, tolong ketersinggungan anda di pending terlebih dahulu. Karena jika anda sudah tinggal di tempat lain dan pergi ke pelosok-pelosok serta melihat banyak hal, mungkin anda akan maklum dengan kesan yang saya dapatkan. Saya lahir dan besar di Jakarta dan selama itu saya merasa nyaman-nyaman saja dan saya merasa hidup saya normal-normal saja. Tetapi begitu saya melihat banyak hal, pergi ke berbagai tempat dan nyaman pada suatu budaya hidup tertentu dimana manusia yang satu menghargai manusia yang lain karena dia adalah manusia, Jakarta gak lebih dari NERAKA, camkan itu! 

 

 

 

Posted by Liza in 03:26:51 | Permalink | Comments (11)