Siap grak…!!!
Pemandangan terkocak yang gue temuin seharian ini adalah Upacara Penurunan Bendera oleh para warga di kompleks perumahan tempat gue tinggal di sore hari.
Keadaannya seperti ini:
Yang jadi Pembina upacara adalah Pak RT berkaos polo merah dan celana training putih lengkap dengan topi merah bertuliskan “Jiggy-Jig”.
Yang menjadi Komandan upacaranya adalah kakek-kakek sebelah rumah yang setiap pagi gue lihat nemenin cucunya jalan kaki di seputar komplek. Kali ini dia bercelana training hijau spotlight berdiri gagah di tengah lapangan.
Pasukan penurunan bendera yang langsung dicomot on the spot dan diajarin baris-berbaris saat itu juga terdiri dari ABG anak SMP tetangga blok sebelah pake tank top kuning dan celana jins ketat sebagai komandan pasukan, terus anak kuliahan tetangga depan dengan terusan batik kusam di sebelah kiri dan sebelah kanannya adalah pembokat tetangga sebelah rumah yang mengenakan terusan butut.
Yang ikut berbaris adalah beberapa warga yang gak sempet kabur setelah segala jenis perlombaan 17 Agustus-an selesai. Ada suami gue yang pake kaos butut oranye plus celana pendek dan sandal jepit, ada bapak seniman gondrong yang tinggal di depan garmen berkaus kutung dan celana batik 7/8 pake kacamata hitam ala Cobra, ada para tukang sendal yang kerja di garmen kita dengan pakaian dan badan belepotan debu karet amplasan sandal, ada bapak-bapak yang perutnya kemana-mana, ada anak-anak kecil yang ikut-ikutan berdiri tegap dalam barisan -yang kerapiannya hanya bertahan dalam hitungan detik- dan sisanya adalah ibu-ibu dan para pembokat yang memakai kaos dan celana training serta daster Bali warna-warni.
Semuanya kelihatan terpaksa dengan ekspresi -buruan deh nurunin benderanya gue udah laper, capek dan pegel- yang seragam.
Sayang banget handycam kebetulan lagi error. Kalo enggak, gue bakal dapet gambar yang bagus banget buat dikirim ke festival film 1 menit di Belanda (www.theoneminutes.org).