Friday, January 9, 2009

Aku menemukanmu

            Entah sejak kapan aku merasa setenang ini. Seumur hidup aku tidak pernah merasa lega, bebas dan lepas seperti sekarang ini. Badan terasa ringan dan jiwa terasa lapang. Padahal sebelumnya, selama aku menikah dan hidup bahagia, sesekali, aku pernah merasa kesepian. Rasanya aku merindukan sesuatu, tapi aku bahkan tak pernah tahu apa yang kurindukan. Mungkinkah aku merindukanmu, Tuhan? Ya bisa saja. Bukan hanya mungkin, tetapi pasti. Apalagi yang bisa kurindukan selain dirimu?

            Sejak aku menikah, sejak aku punya anak, aku benar-benar merasa bahagia, luar dan dalam. Bagaikan cerita Cinderella yang hanya tahu bahwa hidup adalah sebuah penderitaan sampai kemudian bertemu dan menikah dengan prince charming, and they live happily ever after. Aku pun merasa begitu. Dan aku tahu persis, betapa jarang (dan mungkin hampir tidak ada), pasangan yang benar-benar merasa bebas setelah menikah.

Sepupuku yang pacaran 10 tahun sebelum akhirnya menikahi pacarnya pernah berkata, “mana ada orang yang tidak punya rahasia, bahkan dengan pasangan kita sendiripun harus ada yang disembunyikan.” Lantas aku merasa heran dengan ketidaknormalan hidup kami. Karena sesungguhnya sampai sekarang aku sama sekali tidak pernah merahasiakan apapun pada suamiku. Dia juga tidak pernah merasa harus menyembunyikan sesuatu padaku. Toh, jika kami berkata jujur, satu sama lain tidak ada yang merasa keberatan, kenapa harus berbohong? Saat dia birahi melihat perempuan lain, aku tahu dan tidak sedikitpun merasa cemburu, karena memang tidak perlu. Aku memahami nalurinya. Dia bahkan tahu saat aku masih memiliki perasaan khusus terhadap mantan pacarku. Dan begitu juga sebaliknya. Maka ketika tidak setitik pun aku rahasiakan padanya, aku merasa hidup tanpa beban, tanpa tekanan. Hanya ada cinta kasih tanpa tuntutan dan tanpa mengharap imbalan.

Betapa banyak pasangan menikah bagaikan air dan minyak dalam satu gelas, sebagian pasangan menikah seperti air dan pasir dalam gelas, tetapi hanya sedikit pasangan menikah seperti air dan gula. Menyatu dan larut sepenuhnya. Tidak ada lagi “aku” dan “kamu”, tetapi hanya ada “kami”. Seperti aku dan suamiku, kami adalah jenis pasangan yang terakhir.

            Dan dengan keadaan seperti itupun, hidup tanpa beban, hidup tanpa tekanan, hidup dalam kemewahan yang orang lain jarang rasakan, aku masih pernah, sesekali, merasakan kesepian. Aku sangat merindukan sesuatu. Dan suamiku tahu. Dan dia berusaha membantu, mencari pemahaman yang mendalam tentang kerinduanku. Tetapi semua yang dilakukannya terasa belum cukup, terasa masih ada yang kurang. Maka aku pun semakin berusaha, mencari jauh sampai ke pelosok, tetapi tidak ada. Hasilnya nihil.

            Sampai akhirnya aku menyerah. Aku pasrah. Aku ikuti instingku dan kujalani naluriku. Jauh lebih mudah bagiku mengikuti naluri hewani. Makan, minum, buang air, kawin, melahirkan, menyusui, begitu mudahnya kulakukan. Tetapi naluri manusiawi? Akankah semudah itu?

            Maka aku perhatikan detail-detail kehidupan. Kuamati dan kutemukan bahwa warna hijau pada setiap daun ternyata tidak sama. Ternyata aku begitu butanya. Hijau yang selama ini seragam di mataku, ternyata hijau yang jauh berbeda. Begitu juga dengan bentuknya. Mengapa selama ini aku tidak pernah menyadari betapa bentuk daun, yang berbeda satu sama lain, yang punya keunikan tersendiri, tidak pernah terperhatikan oleh mata ini, mata yang terpasang di wajah selama berpuluh tahun. Mata yang sama. Lalu kututup mata dan kupasang baik-baik telingaku. Terperangahlah aku pada irama mengagumkan dari daun-daun yang bergesekan tertiup angin. Kemudian kurapatkan hidungku padanya dan kudapati aroma yang luar biasa. Dan embun yang membentuk bulatan-bulatan kecil di atasnya, terasa segar di lidahku.

Tiba-tiba terdengar suara Master Yoda di kepalaku, “Manusia adalah makhluk spiritual.” Dan aku merasa terlahir kembali. Kembali seperti anak-anak yang polos. Anak-anak yang terus belajar dari awal, dari permulaan. Mengamati banyak hal, memperhatikan sesuatu dan tiba-tiba saja semua detail-detail kecil kehidupan ini begitu menarik. Debu-debu yang beterbangan di jalan seakan menari selaras dengan langkah manusia. Lebah dan kupu-kupu yang bergantian menghisap nektar pada bunga seolah berdansa dengan irama yang dinamis. Aku semakin terpesona dengan gerak kehidupan. Dan aku, sama seperti anakku, bersama kami bergandengan tangan, bersatu mengagumi keindahan alam. Naluri alamiku, yang ada pada diriku sejak aku lahir, yang sempat hilang sedikit demi sedikit dan akhirnya lenyap sama sekali, akhirnya telah kembali. Dan siapa yang harus bertanggungjawab, hei manusia! Manusia-manusia yang pertumbuhannya telah terhenti, yang mengaku paling tahu dan mendikte hidupku selama ini. Tanyalah pada dirimu hai manusia berbada besar berotak kerdil! Aku salahkan kamu, hei orangtua! Aku salahkan kamu, hei lingkungan! Aku salahkan kamu, hei pemerintah! Yang membuat aturan-aturan demi kepentingan pribadi. Bukan, bukan. Aku koreksi. Bukan demi kepentingan pribadi, tetapi demi kepentingan hewanimu. Manusia-manusia yang menimbun harta, ikuti terus naluri hewanimu, maka kau tidak akan menemukan apapun, selain rasa hampa. Kau akan dapatkan kemasyuran, kehormatan dan rasa segan yang semu. Dan kau akan menua. Dan aku tidak ingin, tidak ingin sepertimu. Seperti saat umur kronologismu bertambah, menggerogoti umur psikologismu. Saat kau sudah terlalu lemah, sendi-sendimu telah berkarat, tubuhmu telah mengkerut dan otakmu telah layu kau akan menyesal, saudaraku. Kau akan menyesali banyak hal, tetapi tidak mampu menemukan akar penyebab  penyesalanmu, pun penyelesaiannya. Karena telah kau sia-siakan berkah masa mudamu untuk sesuatu yang tidak akan kau bawa mati. Maka saat maut begitu dekat, kau pun takut, meronta, tidak siap dan mulutmu megap-megap mengumandangkan ayat-ayat suci. Apa kau pikir ayat-ayat suci itu akan mengusir maut persis sama seperti mengusir setan dalam tontonan palsu yang kau lihat selama ini?

            Mengapa, mengapa tidak kau latih kepekaanmu? Mengapa kau tidak berusaha memahami manusia? Bahkan tumbuhan saja begitu uniknya, pun bintang dengan sistem tubuh beserta insting-instingnya. Bagaimana dengan manusia? Dibutuhkan begitu banyaknya perangkat, begitu banyaknya pelajaran, begitu banyaknya wawasan, begitu banyaknya pengalaman dan begitu banyaknya kedewasaan hanya untuk memahami satu manusia saja. Bahkan untuk memahami diri sendiri begitu sulitnya, mungkinkah memahami manusia lain? Manusia seperti aku, yang bicara, yang menuduh, yang merasa bahwa kehidupanku lebih layak darimu. Manusia yang bahkan belum tentu lebih baik darimu. Tambah satu manusia, tambah satu manusia, tambah satu manusia, tambah satu manusia, dan kau akan lihat berapa banyak manusia yang ada dalam keluargamu, yang ada dalam lingkungan tempat tinggalmu, yang ada di negaramu dan yang memenuhi isi bumi ini.

Maka aku kembali ke titik nol. Kembali ke kekosongan, kembali ke sebuah ruang hampa sebelum ada segala. Kulepaskan ketakutanku. Kulepaskan surga dan neraka dalam pikiranku. Kulepaskan nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan, dugaan-dugaan, tuduhan-tuduhan, ancaman-ancaman yang ditanamkan padaku sejak aku lahir. Kulepaskan semuanya dan aku berusaha lebih dalam memahaminya. Entah bagaimana caranya, sedikitnya aku merasakan kegelisahan dan rasa tertekan dalam diri manusia. Betapa rumitnya lapisan-lapisan yang ada dalam diri mereka yang membuat beban hidup semakin besar dan standar hidup semakin tinggi. Peradaban boleh makin maju, teknologi boleh makin canggih, tetapi manusia tetap sama. Manusia yang itu-itu juga. Dan sedikit demi sedikit aku pun semakin dapat memahami diriku sendiri. Aku mengenal diriku melalui mereka. Dan aku pun merasa semakin dekat dengan yang kurindukan. Semakin lama aku semakin menyadari bahwa selama ini dia tidak kemana-mana. Dia selalu ada. Tidak jauh, tidak kemana-mana. Selalu ada. Begitu dekat, tidak kemana-mana. Selalu ada. Tidak kemana-mana. Selalu ada. Tidak kemana-mana. Selalu ada.

            Dia adalah nuraniku, dia adalah jiwaku, dia adalah aku. Yang mencegah keinginan bunuh diri saat beban hidup masa kecil begitu besar, yang sanggup menolak narkoba saat semua sahabat menerimanya, yang mampu menghentikan kebiasaan merokok, yang berani menikahi orang yang baru kukenal dan yang selalu membangunkanku di waktu yang kuinginkan.

 Dia tidak pernah sedikitpun mengatur gerak langkahku, karena dia adalah gerak langkah itu sendiri.

Dia tidak pernah menunjukkan jalan padaku, karena dia adalah keputusan itu sendiri.

Dia tidak pernah menemaniku bernapas, karena dia adalah nafas itu sendiri.

Dia tidak pernah memandu pikiranku, karena dia adalah pikiran itu sendiri.

Dia tidak pernah membisikiku, karena dia adalah suara hati itu sendiri.

 

Dia tidak pernah memberikan apapun padaku, karena dia adalah aku yang menyediakannya untukku.

Dia tidak perlu repot-repot menghukumku karena dia adalah aku yang menghukum diriku sendiri.

Dia tidak pernah mengawasiku, karena dia adalah aku yang mengawasi diri ini.

Dia tidak pernah menjagaku, karena dia adalah aku yang menjaga tubuh ini.

Dia tidak pernah dan tidak akan pernah ada dimanapun kecuali jiwa ini sendiri.


Karena, itu, semuanya, dia begitu dekatnya. Dia bahkan tidak pernah terpisah dariku atau sengaja meninggalkanku, karena aku dan dia adalah satu.

Semakin lama aku semakin ringan. Terbang bersama debu, menari bersama alam. Hidupku lengkap sudah. Hidup berbahagia. Tidak pernah merasa kesepian lagi. Tidak pernah merasa hampa lagi. Karena kebutuhan hewani dan kebutuhan manusiawi telah kupenuhi. Dan jadilah aku, manusia spiritual, yang setiap detik pengalaman adalah sebuah keajaiban.     

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted by Liza in 11:03:06 | Permalink | No Comments »