Dalam Rangka Menyambut Hari Remaja Sedunia | 12 Agustus 2009
(entah siapa yang mencanangkannya, entah apa dasarnya dan apa perlunya -> gue belum sempat browsing sama sekali)
Barusan gue terima sms dari sobat gue, LP, yang sangat aktif (dan peduli) ngebikin acara-acara buat anak muda Bali, “teman2… tgl 12 Agusts adlh Hari Remaja Sdunia.. kasi pndapatmu donk “bgmn sih geliat remaja d Bali saat ini..?” & “Apa yg lg trend d dunia remaja d Bali..?” thx” Begitulah sms yang ngebuat gue terinspirasi bikin tulisan ini.
Menurut gue pribadi kalau boleh gue simpulkan, remaja Bali itu 5P, yaitu:
P #1 PENTING UPACARA
Sepenglihatan gue, orang Bali sangat mementingkan upacara keagamaan yang tak terhingga jumlahnya. Bisa dibilang, sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk upacara dan sebagian waktunya dihabiskan di Banjar (which is fine for me), yang efeknya ngebuat mereka jadi gak punya waktu buat datang ke sebuah acara atau ikut ke sebuah kegiatan lain. Alhasil, kegiatan apapun yang diadakan di Bali punya kecenderungan: SEPI, SUNYI, TAK ADA ORANG seperti di KUBURAN. Suatu kegiatan bakalan rame dengan syarat berhubungan dengan kesenian Bali sendiri, seperti PKB, tari-tarian, bazaar di banjar, etc. Atau bahkan yang berhubungan dengan orang Bali sendiri, seperti misalnya konser Widi Widiana, Nanoe Biroe, etc.
P #2 PROTES
Kalaupun ada diantara anak muda Bali yang “rada lain” (dalam arti, mau agak terbuka) biasanya sering protes, “kok aku gak dikasih tahu ada acara ini??” atau “kok kamu gak bilang-bilang ada acara itu??” Biarpun akhirnya tuh informasi sampe juga ke mereka, ujung-ujungnya bakal protes, “kok ngadain acaranya hari ini??” atau “kok pas lagi pagerwesi ngadain acara sih??” Pokoknya suara protes lebih bergaung dibandingkan penampakan batang hidung.
P #3 PANTANG INISIATIF
Ya kalo emang segitu sibuknya, gak sempet menggunakan mata sambil berpikir dan menghabiskan waktu beberapa detik untuk melirik info-info yang betebaran di sekeliling, ya mbok cari tahu lah. Inisiatif gituh. Buka internet… googling. Or you can use your mouth to ask, “ada acara apa yah bulan ini???” penyelenggara acara dengan senang hati akan menjelaskan panjang lebar dengan mulut berbusa, berbuih sampe dower. Tapi rasanya, kata “inisiatif” bahkan gak ada dalam kamus hidup kebanyakan anak muda Bali.
P #4 PEMALAS
Yang ngebuat kebanyakan penyelenggara sering sebel campur gondok adalah publikasi udah dilakukan abis-abisan, tapi yang dateng tetep aja jauh dari target. Abis-abisan yang gue maksud, bener-bener sampe hilang akal karena segala jenis publikasi sudah dilakukan, baik di dunia maya maupun alam nyata. Dari mulai pasang spanduk, tempel poster di tempat-tempat strategis, sebar flyers, kirim email personal, kirim undangan, sebar info via milis, forum, facebook, media cetak, kirim sms satu-persatu dan ya oloh… teteup aja tak bergeming. Yang dateng itu-itu lagi (wajah-wajah pengisi acara) atau para pendatang (bukan orang Bali) yang haus akan dahaga kegiatan budaya seperti di daerah asalnya. Jadi kalo target yang dateng adalah 15 orang misalnya, lo musti kirim undangan ke 500 orang dulu. Nah loh, kebayang kan kalo target lo 500 orang, berapa undangan yang musti lo sebar??? Apalagi kalo target lo ribuan, hoahhh… capek deh ngitungnya.
Saking desperate-nya, gue pernah rada sinis ke temen deket gue yang selalu kebanyakan alesan tiap gue ajakin dateng ke banyak acara, “apa perlu gue jemput???”
P#5 PEMALU
Kalo kata temen gue yang berinisial E yang notabene orang Bali, dia bilang anak muda Bali emang extra pemalu. Intinya, mereka lebih seneng untuk pergi bergerombol dibandingkan pergi sendiri-sendiri. Apalagi kalo kita udah megang pentolannya, dijamin… yang lain pada ngikut. Bisa jadi teorinya benar bisa juga enggak, whatever lah. Tapi lucunya, si E ini adalah orang yang sama (yang dengan wajah capeknya karena kurang tidur menyiapkan satu event besar dimana dalam rangkaian acara itu ada segmen press conference-nya) yang bertanya dengan polosnya, “Kalo di Jawa, pers dibayar berapa ya biar mau dateng?”
Gue, yang ngerasa sedikit bingung karena press conference itu cuma dihadiri 6 orang wartawan (itupun karena teman-teman dekat yang kebetulan kerja di media dan dateng karena terpaksa) menjawab dengan santai, “yah, jamannya gue di media sih, acara pers conference di Jakarta ato di Bandung selalu rame… ada atau gak ada duit. Gak ngaruh kayaknya. Mungkin karena seneng aja bisa kumpul-kumpul, saling tukar informasi. Teman makin banyak, relasi juga jadi bertambah,” si E ini bengong seakan tak percaya, “enak banget ya kalo gitu. Di sini sih, boro-boro. Kalo dijanjiin dapet amplop, baru mau dateng. Nulis berita juga… tergantung jumlah uang yang kita kasih.”
Dulu gue pernah berteori, bisa jadi acara-acara di Bali sepi pengunjung karena disamping orang Bali-nya sibuk bebanjar, masing-masing komunitas (seolah) terkotak-kotak dan gak saling menyapa satu sama lain. Masing-masing organisasi berdiri sendiri, gak saling kenal, gak mau berusaha saling kenal dan gak juga merasa perlu buat kenalan.
Kalo sekarang teori gue berevolusi, kembali ke pepatah lama:
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya…
PS: Diluar dari apakah betul atau salah… semuanya berdasarkan pengalaman pribadi yang menghasilkan teori pribadi yang tidak ilmiah dan belum dibuktikan kebenarannya. Banyak kekurangannya dan (mungkin) terlalu berlebihan bagi sejumlah kalangan (mengacu kepada orang-orang Bali yang kurang suka diusik dan dikritik mengenai cara hidupnya demi kelangsungan ajeg Bali yang senantiasa lestari).