Gue malu jadi orang Islam (which I`m not…) part.II
Ada salah satu posting-an milis yang ngebuat gue jadi tertarik buat nulis (lagi…)
Bang Sohib,
kalau banyak kali terdengar hinaan, cacian dan sindiran terhadap non
Muslim yang dilakukan oleh khatib-khatib di masjid-masjid during
sholat Jumat (disiarkan pake loudspeaker..), hukumnya apa ?
kalau banyak buku-buku, majalah, bacaan yang diterbitkan oleh orang
Islam..dan intinya menjelek-jelekkan agama lain..(dijual umum ditoko
buku, sampai di kaki lima) hukumnya apa ?
Saya jadi miris juga..
Setelah mengendapkan, mencerna, membandingkan, mengkaji dan memikirkan lebih dalam… kok gue malah jadi bener-bener percaya tulisan gue yang sebelumnya ya. Bahwasannya ISLAM MEMANG SEDANG DALAM PROSES MENGHANCURKAN DIRINYA SENDIRI. Padahal tadinya tulisan tersebut hanya sebagai ungkapan kekecewaan yang terkait dengan “ruang” dan “waktu”. U know what I mean lah…!
Issue (Issue disini sepadan dengan “kabar”, bukan “gosip”) yang masih heboh adalah the Old Man Paus B. XVI, dianggap telah menghina Islam dalam pidato di forum ilmiah. Lagi-lagi Islam nowdays yang identik dengan “kekerasan” udah bisa dipastikan bakal emosi berat. Dengan begitu Paus yang tadinya (mungkin) punya maksud lain dalam pidato itu malah seperti “kejatuhan durian runtuh” dan bisa sesumbar dengan kalimat pembuka “tuh kan apa gue bilang. Islam emang bla bla bla bla…..”
Kalo seandainya gue punya kepentingan beberapa level dibawah Om Paus, mungkin gue bakal komentarin balik orang-orang yang “panas” baca tulisan gue, dengan kalimat pembuka yang sama persis dengan jeng Paus yaitu “tuh kan apa gue bilang. Islam emang bla bla bla bla…”
Tapi sayang sekali, gue gak punya kepentingan apapun. Jadi gue gak ngerasa harus ngebales komentar orang-orang di blog gue sendiri. Gue gak ngerasa penting buat membela diri sekedar demi gengsi & harga diri. Nanti yang keliatan malah “pamer wawasan” toh? Gue juga gak ngerasa penting buat ngejatuhin diri gue sendiri sekedar demi menarik simpati. Nanti yang keliatan malah “gak punya prinsip” toh? Gue sih cuma bisa ketawa ketiwi sambil bergumam: berbeda sedikit udah dianggap menghina Islam. What a pity!
Diakui apa enggak, orang Islam itu emang rata-rata rasis. Apalagi orang Arab Islam yang sunni, bawaannya curigaan mulu sama orang yang beda dari mereka. Jangankan yang beda agama, bahkan sama yang Islam tapi non-arab-pun mereka nggak senang. Mereka ngerasa yang kadar Islamnya 100% ya cuma orang Arab. Yang lain dianggap cuma sampe ke level ‘Islam wanna be’. Makanya nggak usah ngomong orang non-islam yang nggak suka Islam, bahkan di dalam Islam sendiri aja orang Islam nggak suka dengan orang Islam lain yang beda pandangan.
Soal perang Israel sama Hizbullah misalnya, orang-orang Arab itu bilang itu perang sebenarnya konspirasi antara orang Iran yang Syi’ah dengan Yahudi Zionis Israel. Dan menurut Arab-arab sunni itu, orang Syiah yang rata-rata dianut sama orang Parsi (non-Arab) lebih bahaya daripada zionis, makanya orang-orang Arab Islam di sini semacam Jafar Umar Thalib atau Habib Rizieq kelakuannya juga sama dengan Arab di tanah arab sana… punya hobi mengkafirkan orang Islam lain yang beda pandangan sama mereka. Mengkafirkan orang Islam lain yang bacaannya di luar sejenis Hidayatullah, Sabili dan tulisan-tulisan Hartono Ahmad Jaiz.
Malah di negara-negara Arab yang super tajir semacam UAE, Qatar dan sejenisnya, orang-orang Arabnya belagu banget dan merasa bangsa paling hebat di dunia. Mereka ngeliat orang Islam dari negara dunia ketiga semacam Indonesia, Bangladesh dan Pakistan seperti ngeliat budak. Anggapan umum orang Arab di sana, Orang Indonesia naik haji dibiayai sama pemerintah Saudi sebagai hadiah karena Indonesia punya penduduk muslim paling banyak di dunia.
So….Gue pengen menambahkan semacam keterangan dalam statement yang pernah gue buat, bahwa sepertinya agama yang merasa bersaing dengan Islam sudah mendapat cara jitu dalam menurunkan pamor Islam dan menaikkan popularitasnya sendiri. Udah gitu Islam yang emang agama “panasan” (disentil dikit langsung meletup-letup), bukannya bersikap bijak dan membuktikan “kebenaran yang cuma laku dalam komunitas Islamers bahwa Islam adalah agama paling yahud dan cinta damai, bahasa gaulnya Rahmatan Lil Alamin”, eh… malah terbawa arus.
Mau lo bela atau tidak lo bela agama lo sendiri (baca: Islam), pada kenyataannya pamor Islam semakin menurun karena banyak pihak-pihak yang merasa berkepentingan untuk menghancurkan Islam. Dan semakin barbar dan norak cara yang digunakan orang Islam untuk membela Islam, semakin hancurlah Islam.
Gue akuin teknologi udah semakin canggih dan arus informasi udah gak bisa kebendung lagi, tapi ironisnya hal tersebut malah berjalan seiring dengan peradaban manusia yang semakin mundur ke jaman purba. Apa karena sekarang udah era digital (era automatic udah basi deh!), jadi manusia udah makin manja dan otak manusia jadi makin tumpul. Jamannya manual dulu kan manusia harus berpikir keras buat bertahan hidup dan bisa jadi “pemikiran berkualitas” itu muncul dari usaha keras tadi. Atau mungkin sebaliknya, karena sekarang segala sesuatu jadi lebih praktis, manusia jadi punya banyak waktu luang buat “berpikir”. Yang jelas cara yang dilakukan para Islamers emang udah basi banget (so last year deh!). Disaat orang-orang pada sibuk “pamer otak”, eh… mereka malah “pamer otot”. Hebatnya untuk urusan otot dan otak, orang-orang Islam pada sibuk balapan balik ke jaman dinosaurus, two thumbs up!!!!
Ada suatu anekdot yang muncul dari khayalan gue semasa kecil. Menurut ajaran Islam, hanya orang Islam saja yang bisa masuk surga dan yang lain tidak. Betul? Tapi bagaimana jika tidak demikian? Gue pernah ngebayangin pada saat gue meninggal kelak, gue bakal mengalami hari-hari panjang yang melelahkan di neraka. Setelah mengalami penantian berkepanjangan, dengan perlente dan gagahnya gue memasuki gerbang menuju surga (karena Islam mengajarkan, seburuk-buruknya orang Islam pasti akhirnya masuk surga juga)… tiba-tiba dari balik pintu muncul Tuhan dan dengan jailnya berkata “Gotcha! Kamu salah, selama ini yang bener adalah ajaran Kristen (atau Hindu atau Budha atau whatever lah, selain Islam), jadi kamu masuk neraka lagi ya. Yuk dadah yuk babay!!!!” What???? (pake` ekspresi mata melotot sampe mau keluar dari rongganya). Nyebelin gak sih? Udah capek-capek ikut-ikutan ngebunuh orang atas nama bela agama, di akhirat masih disiksa pulak… eh taunya agama yang selama ini dianut ternyata salah. Yang berlaku di akhirat adalah keyakinan orang lain.
Yup that`s right! itulah imbalannya kalo lo desperately seeking heaven.
So… percuma menjalankan agama karena kebiasaan, dimotivasi oleh rasa takut dan ancaman serta diiming-imingi bayaran surga. Gue percaya ide dasar dari semua agama itu sebenarnya baik, dan dengan segala kerendahan hati (sekali lagi)…para pembela Islam berkacamata kuda itu begitu kerasnya membela Islam. Sebegitu kerasnya bahkan mereka menempatkan Islam lebih penting diselamatkan daripada MANUSIA itu sendiri. Pertanyaan lugu/polos/bego: “Padahal bukankah alasan kenapa agama itu “ada” dan “diadakan” seharusnya untuk menyelamatkan manusia?” Karena apa… karena human himself is a spiritual being.
Gue percaya seluruh perjalanan hidup manusia akan bermuara ke esensi awal yaitu esensi tujuan hidup dan esensi hidup itu sendiri. Bukan cuma tujuan hidup manusia dari awal dilahirkan sampai bisa mikir seperti sekarang, tapi lebih kepada misi yang diemban sama generasi-generasi sebelumnya, nenek moyangnya sejak generasi paling awal. Misinya apa? Tujuannya apa?