Wednesday, November 4, 2009

Gue malu jadi orang Islam (which I`m not…)

Gak tau siapa yang punya ide goblok menanamkan suatu keyakinan tolol yang juga pernah sempat bersarang dalam diri gue selama bertahun-tahun, bahwa setiap orang Islam meskipun pada awalnya masuk neraka akibat dosa-dosanya di dunia, pada akhirnya dia akan masuk surga juga meskipun ada suatu tanda di keningnya. Tetapi orang yang bukan Islam, meskipun dia berbuat kebajikan sebesar apapun, dia tidak akan masuk surga. Kenapa? Karena orang itu bukan Islam. Orang yang bukan Islam itu adalah Kafir. Dan orang kafir itu tempatnya di neraka.

Gue inget waktu gue SD dulu, gue sering banget ledek-ledekan sama temen gue yang agamanya Kristen. Ledekannya semacam ini: “Wee… kasian deh kamu agamanya kristen, masuk neraka. Mending aku dong, Islam masuk sorga! Kristen kan haram kaya babi! Weeek…” Jelas aja temen gue gak terima dan bales ngeledek gue, “Islam tuh yang masuk neraka. Dari jaman nabi Adam kerjaannya ngerusak terus. Berhala Tuhannya orang lain diancurin. Patung sembahan orang dirusakkin. Islam yang harusnya masuk neraka wekkk. Soalnya agama Islam agama perusak. Orang Kristen yang harusnya masuk sorga, soalnya di agama kita kan gak pernah diajarin ngerusak agama orang. weeeekkk…”

Pada saat itu gue dan temen gue tetep debat kusir dengan dogma-dogma yang dari bayi ditanamkan ke dalam diri kita masing-masing dan tetep percaya bahwa agamanya sendiri paling unggul dan agama orang lain tidak. Kalo sekarang gue inget lagi, perdebatan gak penting itu kok ya malah jadi suatu kajian yang menarik ya? Gue yang dulunya seneng banget baca kisah nabi-nabi-nya Ismail Pamungkas, meyakini bahwa patung-patung, berhala-berhala yang disembah oleh orang lain itu memang seharusnya dimusnahkan. Waktu itu gue pikir, yang mereka sembah kan patung bukan Tuhan. Tuhan gak seharusnya dibuat oleh manusia. Tuhan gak seharusnya punya bentuk dan wujud, karena punya wujud dan punya bentuk itu adalah sifat manusia bukan sifat Tuhan. Teori monyet masa kecil gue tentu aja makin lama makin didukung oleh cuci otak yang diajarkan sama guru ngaji waktu gue ikut Madrasah dulu yang gak tau kenapa doyan banget ngejelek-jelekkin Yesusnya orang Kristen. Mereka sering banget mengolok-ngolok Yesus dengan perkataan semacam: “masa Tuhan disalib?” atau “masa Tuhan punya ibu?” Gak tau juga deh guru agama gue ngerti apa engga konsep tritunggal-nya Kristen?

Padahal Tuhan orang Islam sendiri berwujud dan berbentuk. Misalnya setiap ngusir setan pake bacaan ayat-ayat Quran. Yang dipercaya itu sebenarnya Tuhannya apa ayatnya ya?

Terus… waktu kecil, gak tau sejak kapan…. gue ngerasa ngucapin selamat natal ke orang Kristen hukumnya HARAM. Makanya waktu kita sekeluarga lagi asik nonton TV, trus ngeliat Pak Harto lagi ngucapin selamat natal pas tanggal 25 Desember. Kontan aja seluruh keluarga melotot seolah-olah ngeliat Alien turun ke bumi dan spontan semuanya bilang: “Ih Pak Harto bakal masuk neraka tuh ngucapin selamat natal.” (suatu hal yang teramat mudah adalah menghakimi orang lain).

Seiring dengan referensi yang semakin bertambah karena kecintaan gue akan buku, waktu gue SMA gue pernah debat sama temen-temen gue sesama rohis. pemberontak kaya gue bisa masuk rohis? bisa dong dan ada cerita unik dibalik masuknya gue jadi anak rohis. waktu baru masuk SMA, karena baru balik homestay dari Australia, dandanan gue rada kepengaruh iklim sana. Gue yang waktu itu tomboy berat, pake kemeja ukuran 3x lebih besar dari semestinya, rok yang 2x lebih besar dari mestinya, sepatu Nike CB (Charles Barkley) 32 keluaran paling baru, telinga kanan dan kiri masing-masing 4 tindikan lengkap dengan topi Nike dan travel bag Nike berisi rantang dan bola basket. Jelas aja senior-senior risih dan mendidih ngeliat dandanan gue. Tiap hari mereka bolak balik ke kelas gue dan berusaha mati-matian buat ngegojlok gue, tapi karena hormon laki gue waktu itu lebih dominan, jelas mereka gak berhasil. Dengan cara kasar gagal, mereka pake cara yang gak bisa ditawar-tawar lagi, melalui anak-anak rohis (baca: Rohani Islam). Anak-anak rohis berdatangan menghampiri gue dan men-judge bahwa penampilan gue tidak mencerminkan seorang Islam. Mereka tidak berhasil juga karena waktu itu gue udah mulai meragukan ke-Islam-an gue sendiri. para rohis-wan dan rohis-wati pantang menyerah. Tibalah saatnya tes membaca Al Quran untuk semua anak baru buat menentukan masuk ke tingkat mana untuk belajar Islam. Tingkat paling rendah adalah tingkat 1 dan yang paling tinggi adalah tingkat 4. Dengan penampilan gue yang mirip preman, para rohisers still yakin kalo gue pasti goblok soal agama dan buta Quran, yang artinya mereka bakal punya banyak waktu buat brainwash gue. Dasar mereka-nya yang goblok, mereka gak tau kalo sejak kelas 4 SD nyokap gue manggil guru ngaji ke rumah buat ngajarin anak-anaknya baca Quran dan belajar Islam, selain itu gue juga pernah masuk Madrasah dan pernah ikutan pesantren. Maka cengoklah mereka-mereka sang Hamba Allah, mendengar gue baca Quran bagaikan Qori’ah pemenang MTQ lengkap dengan Tajwid dan suara yang mendengung-dengung. Gue sukses masuk tingkat 4 dengan amat mudah dan secara otomatis gue bergabung bersama rohisers yang sinis, jutek, sirik dengan kemampuan gue yang gak matching dengan penampilan.

Kembali ke cerita di atas, berawal dari salah satu anak rohis yang nyeletuk: “Sayang banget ya Putri Diana meninggal sebelum masuk Islam, masuk neraka deh. Padahal kan udah mau merit sama Dodi Alfayed, katanya dia udah mau masuk Islam gitu. Coba sebelum meninggal dia ngucapin dua kalimat syahadat, pasti deh langsung masuk surga. Sayang banget ya. Udah banyak bantu orang, sia-sia masuk neraka.” Gue yang terkenal sebagai Lie (nama panggilan gue semasa SMA) si pemberontak dan Lie si “kekiri-kirian”, ikutan buka mulut. “Tuhan kan Maha Adil, masa sih Tuhan se-picik itu nyemplungin Lady Dy ke neraka begitu aja.” Tentu aja temen rohis yang rata-rata sentimen sama gue langsung sewot, “Ya iyalah. Lo bego banget sih. Lady Dy kan Kristen, jelas aja dia masuk neraka biar kata amal baiknya lebih besar.” Gue makin semangat berdebat sama orang-orang yang mirip katak bego dalam tempurung. Maka untuk kesekian kalinya gue jadi Public Enemy.

Makin lama gue jadi semakin meragukan ke-Islam-an gue. Gue pun malah meragukan konsep Ketuhanan sampai pada saat pertama kali gue kuliah, gue bisa ngeliat diri gue sendiri adalah seorang ATHEIS. Tapi ke-Atheis-an itu gak bertahan lama karena ada suatu pengalaman spiritual yang cuma orang-orang tertentu aja yang tau kejadiannya. Sejak itu gue mulai percaya bahwa Tuhan benar-benar ada, tapi untuk kembali mempunyai agama bener-bener bukan pilihan hidup gue. Meskipun di KTP gue tetep Islam karena sistem di negara goblok ini memang mengharuskan setiap warganya memilih diantara 5 agama yang sah.

Belakangan ini gue mulai banyak mikir. Orang-orang mulai sibuk pamer agama. Noraknya minta ampun. Ditambah lagi sama sinetron-sinetron religius yang jalan ceritanya gak penting, artisnya gak penting dan produser yang gak kalah gak pentingnya. Gue bilang gak penting karena adanya tumpang tindih keyakinan dalam tayangan-tayangan tersebut. Sinetron religius itu bernapaskan Islam, pemainnya artis Kristen dengan produser Hindu. Biar sejuta orang berjenggot mendukung sinetron semacam itu, gue tetep yakin 100% kalo tuh sinetron gak ada nilai Islam-nya sama sekali, meskipun pemainnya berpakaian ala Arab dan sibuk komat kamit pake bahasa Arab pulak.

Islam yang gue kenal dulu, yang katanya agama yang membebaskan, sekarang gak lebih dari agama kacangan yang lahir dari “uztad palsu mantan coverboy”. Islam yang katanya satu-satunya agama yang bikin adem, yang menenangkan, sekarang gak lebih dari “agama penghancur” yang meneror hidup orang lain, yang popularitasnya udah mulai redup, yang napasnya udah mulai senen-kamis dan mulai jadi sekte hitam. Tiba-tiba gue jadi inget kata-kata temen SD gue tadi. Kalo udah bulan puasa, ada aja pub, diskotek, cafe yang dihancurkan sama para “preman berjubah” itu. Gak puas dengan itu, mereka mulai menghancurkan tempat ibadah orang lain, mulai ngatur cara berpakaian orang lain dan semakin lama semakin histeris membabi-buta menghancurkan hidup orang lain. Islam Para pembela Islam berkacamata kuda itu begitu kerasnya membela Islam, daripada manusia yang sesungguhnya harus diselamatkan.

Mereka masih sibuk koar-koar, teriak-teriak “Allahu Akbar!” sementara pengangguran semakin bertambah, orang semakin lapar, pendidikan semakin tidak terjangkau dan orang sakit semakin tidak dapat mengobati dirinya sendiri karena mahalnya biaya pengobatan.

Islam benar-benar dalam kondisi memprihatinkan. Islam sedang dalam proses menghancurkan dirinya sendiri.

Posted by Liza in 02:36:47
Comments

Leave a Reply