Wednesday, November 4, 2009

Jelek itu anugerah…

Menurutku ada 3 tipe cewek secara fisik: cantik alami, cantik relatif, jelek mutlak. Cantik alami adalah cantik bawaan sejak lahir, yang artinya gak usah pake make up juga gak apa-apa, karena udah cukup bling-bling sehingga mampu membuat semua mata tertuju dan langsung menoleh begitu si cantik alami lewat, meski baru bangun tidur sekalipun. Sementara kalo cantik relatif bisa bermacam arti. Bisa jadi si cewek gak begitu cantik (tapi gak jelek juga), tetapi punya daya tarik. Misalnya karena dia cerdas atau karena punya keahlian tertentu yang membuat orang terkagum-kagum sehingga muncul yang namanya inner beauty. Tapi cantik realtif juga bisa berarti: cewek yang gak begitu cantik + make up bagus, dandanan keren, bahasa tubuh oke & ditunjang dengan postur tubuh yang menawan, maka hasilnya… bisa jadi cantik juga. Nah kalo jelek mutlak, wah… gak usah ditanya deh. Namanya juga mutlak, artinya udah mentok banget jeleknya meski udah diapa-apain.

Gimana jika seorang cewek cantik alami + pintar + supel? Hasilnya adalah… sepupuku.

Dulu… setiap kali jalan berdua bareng sepupuku yang cantik jelita itu, selalu dia yang digodai. Sama tukang es mambo yang lagi ngaso di bawah pohon, sama anak-anak muda yang lagi ngerokok sambil ngegitar nongkrong-nongkrong di pinggir jalan, sama kuli-kuli bangunan yang lagi nangkring di atas atap, bergelantungan di atas ember, jongkok di atas titian kayu dan teman-temannya yang lain. Godaan, siulan dan bahkan teriakan minta kenalan pasti ditujukan ke dia, karena dia putih, mulus, cantik dan menarik. Dan bukan kepadaku. Karena aku hitam, berjerawat dan tidak menyelera.
“Baju merah… baju merah…!!!” kala sepupuku memakai baju merah dan aku memakai baju warna hijau.
“Kuning… kuning !!!” kala sepupuku memakai baju berwarna kuning dan aku memakai baju warna ungu.
Selalu begitu, kejadian yang terulang dalam waktu sehari, sebulan, setahun dan tahun-tahun berikutnya setiap kali aku bersamanya. Bukan… bukan berarti aku juga minta digoda, najis su najis digoda sama mereka. Bahkan meski Nicholas Saputra pun yang bersikap kayak gitu, bisa jadi penilaianku kepadanya bakal berubah 180 derajat. Yang jelas aku iri, iri sekali… iri tingkat tinggi. Wajah cantik memang selalu bisa langsung menarik perhatian orang, sementara wajah jelek tidak pernah dipedulikan. Rasanya perih sekali. Setiap kali jalan bersamanya, hatiku merasa teriris, karena lagi-lagi, orang tidak akan mengacuhkan keberadaanku. Seolah-olah aku tidak ada. I don`t even exist to them! Emangnya gue setan, gak keliatan??? Kejadian sama yang terus berulang tidak membuatku menjadi terbiasa, tapi semakin membuatku menjadi kecil dan tak berarti. Minder sampai mati, begitu kupikir dalam hati… saat itu, waktu itu.
Dan aku pun berusaha, berusaha keras dan semakin keras untuk menarik perhatian orang lain. Setiap bicara volume suaraku mesti di atas rata-rata orang normal. Tertawa, marah dan bahkan menangispun… aku harus mengerahkan volume suaraku sekencang-kencangnya. Dalam berbagai acara, aku adalah si “banci tampil” yang selalu berlebihan, liar dan gak tahu aturan. Hasilnya, julukanku “si over PD” yang bertambah musuh karena banyak dibenci orang. Menyebalkan, biang ribut dan ganggu banget. Well… meski bukan menimbulkan kesan baik, paling enggak orang jadi tahu bahwa aku… ada.

Dulu… sejak kecil ditanamkan pada diriku… oleh ibuku, bahwa aku jelek, hitam legam seperti arang. Setiap ada acara yang menayangkan gambar monyet, siamang, orang utan dan kerabatnya di televisi, ayahku… dengan gembira heboh berteriak-teriak memanggilku, “Hey… kamu ada di tivi tuh!!!” Dan entah kenapa binatang lucu yang kubenci itu seakan malah semakin sering hadir dalam hidupku. Dalam koran yang dibaca ayah, majalah yang dilihat ibu, dalam kalender, dalam sampul buku dan akhirnya ikut menyemarakkan mimpiku. Pada saat itu, mungkin orangtuaku tidak bermaksud menghina, mungkin mereka hanya sekedar menggoda atau ingin berusaha akrab denganku, tapi… godaan yang ditujukan kepada anak dengan kalimat yang mengandung hinaan, merendahkan harga diri dan mengintimidasi, dilakukan berulang-ulang, ditanamkan sedalam-dalamnya, sampai si anak tumbuh besar… sungguh merupakan harga mati untuk meruntuhkan segala kepercayaan diri manusia. Dan orangtuaku sukses, sukses membuatku tumbuh menjadi orang yang percaya bahwa diriku adalah makhluk terjelek di muka bumi ini. Sukses membuatku jijik pada diri sendiri. Makhluk paling buruk, paling hitam, paling ancur se-ancur-ancurnya… salah satu jenis makhluk hidup yang lebih baik dibuang, karena tidak diinginkan dan tidak dibutuhkan.

Dulu… umur 15 tahun, saat berada di pesawat terbang dalam perjalanan pulang dari Amerika, cuaca sangat buruk. Seluruh penumpang panik. Pesawat tiba-tiba naik turun dengan cepatnya, terombang-ambing seperti jet coster yang membuat perut seperti diperas, badan mual dan kepala sakit tak tertahankan. Pramugari yang dituntut untuk tenang setiap saat agar tidak membuat penumpang panik, yang biasanya menampakkan raut wajah damai, kali inipun tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya. Keadaan betul-betul tidak terkendali. Semua penumpang tidak bisa menutup mulut mereka. Teman di sebelah kanan komat-kamit baca ayat kursi. Teman di sebelah kiri sibuk berkonsentrasi sambil menggenggam tangannya, meski samar-samar masih terdengar di telingaku kata-kata: “atas nama Bapa dan Tuhan dan Roh Kudus”. Teman di depan, di belakang dan seluruh penumpang semakin keras berteriak memanggil Tuhan… kecuali aku. Aku satu-satunya orang yang terdiam. Yang hanya memandang sekeliling dengan wajah takjub dan terpesona. Mereka takut mati? Kenapa? Bukankah mati itu menyenangkan? Bukankah mereka tidak perlu lagi harus pusing memikirkan apa yang harus mereka lakukan untuk mengisi hidup mereka? Kemudian aku ingat, semua itu adalah pikiranku… hanya diriku. Mereka punya pikiran yang lain. Saat itupun aku sadar, yang membuatku berbeda dari mereka adalah karena tidak ada satupun yang aku sayangi dan sekaligus tidak ada satupun yang menyayangiku. Aku sangat yakin, orangtuaku tidak akan merasa kehilangan jika aku mati. Aku bahkan membayangkan saat mereka menerima jenazahku, ibu akan berteriak-teriak, memukul dan menyumpahiku “dasar anak gak tau diri, udah dikasih makan, disekolahin, dibiayain mahal-mahal… malah mati. Ngerepotin aja! Mana harga tanah kuburan naik, harus ngasih makan orang sekampung… dari kecil bisanya ngerepotin orangtua terus!!!” Membayangkan teman-temanku sama saja, mereka jauh lebih berbahagia lagi karena akhirnya bisa hidup tenang tanpa suara toa dari mulutku, hidup dengan perasaan nyaman tanpa keisengan-keisengan yang biasa kulakukan dan bisa jadi musuh-musuhku menari-nari dan berpesta pora merayakan kematianku di atas kuburanku sendiri. Jadi, untuk apa aku panik? Justru sebaliknya, akhirnya aku bisa terbebas dari mimpi buruk menjadi orang jelek yang tidak diinginkan. Aku menerima kematianku dengan tangan terbuka. Kan kupeluk dengan penuh suka cita, karena aku membayangkan tidak perlu lagi dihantui perasaan bersalah saat berkali-kali mencoba bunuh diri, karena hari ini, detik ini… justru kematianlah yang menghampiri. Saat yang sudah lama kutunggu-tunggu sejak aku kecil. Aku tidak sabar untuk segera mati secepatnya. Dan aku tersenyum bahagia seperti anak kecil yang menunggu sebuah kado istimewa dari Sinterklas… dan mereka masih berteriak-teriak ketakutan. Sungguh pemandangan lucu dimana seonggok makhluk bisa senyam senyum cengengesan di tengah kepanikan, histeria massa dan maut yang hendak menjemput. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa bangga pada diriku sendiri.
Lalu, rasanya semua berlalu begitu cepat. Doa serombongan manusia mungkin memang lebih manjur, karena pesawat akhirnya dapat terkendari oleh Pak Pilot. Seluruh penumpang menarik napas lega, wajah panik mereka berangsur-angsur menjadi cerah ceria bersamaan dengan wajahku yang berubah pucat pasi. Mendung di atas kepala mereka dalam sekejap pindah dan membebaniku. Aku kecewa, teramat sangat kecewa. Dalam hati kulontarkan maki-makian pada Pak Pilot, “terkutuklah engkau pilot brengsek… yang telah merebut kadoku, yang merenggut kebahagiaanku satu-satunya.” Aku merasa lemas sekali, gairahku hilang ditelan damainya senja di atas langit Beijing.

Dulu… umur 17 tahun, akhirnya aku terlepas dari belenggu kedua orangtuaku. Aku tinggal terpisah dari mereka dan menjalani kehidupan baru sebagai mahasiswa, meskipun harus membayar dengan menghadapi kenyataan… tinggal dan hidup bersama sepupuku si cantik jelita, satu-satunya saudara yang akrab denganku sekaligus mimpi burukku. Yang artinya aku akan semakin sering jalan-jalan bersamanya, aku akan semakin sering mendengar suara telpon yang tidak pernah berhenti berdering dari penggemar-penggemarnya dan saat malam tiba adalah saatnya aku menatap dan mengagumi wajahnya yang menarik sekaligus membuatku semakin membenci wajahku, membenci bagian-bagian tubuhku, membenci diriku sendiri. Dan aku terus hidup dalam kebencian. Benci pada diriku, benci pada dirinya, benci pada orang yang menggodanya, mengaguminya dan menyatakan cinta padanya, benci pada pedagang buah yang selalu memberikan bonus untuknya, benci pada pedagang di Cimol yang rela ditawar semurah-murahnya olehnya, benci pada supir yang tidak pernah minta ganti rugi sedikitpun setelah mobilnya ditabrak olehnya, benci pada dunia, benci pada ketidakadilan. Orang cantik selalu bisa dimaklumi… dan itu yang paling kubenci.

Sekarang… sepupuku yang cantik, menikah dengan pacar satu-satunya sejak SMA. Orang yang sama, yang selalu dia keluhkan setiap malam, yang selalu jadi penyebab kesedihannya, yang selalu membuatnya menangis… yang sangat posesif. Yang membuat sepupuku selalu ingin memutuskan hubungan dengannya, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi kenyataan. Karena sepupuku terlalu takut tidak akan mendapatkan pasangan yang lebih baik darinya. Alasannya adalah… karena selama ini, sepupuku selalu tertekan dengan pandangan mata setiap laki-laki, tua dan muda yang bagaikan serigala, siap menelannya hidup-hidup. Seperti mata anjing saat musim kawin… bernapsu, mesum, mupeng. Sepupuku yang cantik… entah sudah berapa banyak laki-laki yang menjadikannya sebagai bahan coli. Sepupuku yang cantik… yang selalu didekati laki-laki hanya karena fisik. Tidak ada satupun laki-laki yang tidak memakai topeng di depannya. Berkata manis, bersikap manis, meski sebenarnya mereka tidak lain adalah bajingan tengik yang memainkan peran pangeran gagah nan sempurna. Laki-laki yang tidak tahu cara memperlihatkan sosok aslinya, laki-laki yang tidak mengerti arti kata tulus. Jadi bagaimana mungkin sepupuku bisa memutuskan pacarnya? Meski tertekan dengan keposesifan pacarnya, tapi paling tidak pacarnya jujur dengan memperlihatkan perangai buruknya serta kemarahannya secara terang-terangan terhadap laki-laki manapun yang terlihat mendekatinya bahkan jika sepupuku hanya berbicara dengan pria tersesat yang mencari alamat. Dan sepupuku merasa lega mendapat pasangan yang menurutnya tidak bermuka dua, meski keaslian yang ditunjukkan oleh pacarnya itu membuatnya sangat tertekan. Sepupuku yang cantik yang telah menikah dan mendapat anak, masih sering menangisi suaminya. Sepupuku yang cantik, yang terperangkap seuumur hidup dalam nasib yang membelenggunya.

Sekarang… aku hidup cukup. Tidak kaya, tidak juga miskin. Tidak jadi apa-apa. Tidak ada mobil, tidak ada rumah bertingkat, tidak hidup mewah, tidak menghamburkan uang untuk bersenang-senang membeli pakaian atau dugem tiap malam dengan segelas Baileys di tangan. Tapi aku merasa sangat bahagia. Aku tetap aku… yang semakin hitam akibat matahari pantai yang kurang bersahabat. Aku tetap aku… yang tidak diperhatikan orang karena tidak cantik dan tidak menarik. Tetapi aku yang sekarang tidak pernah iri lagi terhadap perempuan cantik. Aku yang sekarang telah mencintai dan dicintai dengan tulus, apa adanya oleh dua harta yang paling berharga dalam hidupku: suami yang selalu mendukung dan anak yang selalu berkata, “kalo gak ada orang yang perhatiin bunda, aku yang perhatiin bunda. Kalo gak ada orang yang sayang sama bunda, aku yang sayang sama bunda. Soalnya bunda baik. Makanya bunda jangan sampai kenapa-napa ya…”
Sungguh merupakan kebahagiaan terbesar dalam hidupku mengetahui bahwa aku dibutuhkan dan dicintai apa adanya, sehingga dengan perasaan sadar akupun menerima dan turut mencintai diriku, jiwaku, fisikku apa adanya. Perasaan diinginkan tersebut telah mengubah diriku yang tak bernilai menjadi manusia berharga. Dengan sendirinya, seakan berjalan secara alami… segala jenis kecantikan fisik tidak berarti lagi, tidak penting lagi untukku. Lagipula, masih banyak hal yang lebih berguna yang bisa aku pikirkan dan aku khawatirkan menyangkut masa depanku, masa depan keluargaku dan terutama masa depan keturunanku.

Sekarang… aku semakin sering bertemu dengan perempuan-perempuan cantik yang tidak bahagia. Yang selalu mengeluh karena justru kecantikannya malah menjerumuskan hidupnya. Semakin lama, aku meras semakin beruntung dilahirkan tidak menarik. Meski bisa dihitung jari tetapi paling tidak, laki-laki yang mendekatiku bukan karena karena punya kepentingan tertentu, punya maksud terselubung atau mengharapkan imbalan, tetapi karena kepribadianku, karena pemikiranku, karena pandangan hidupku. Laki-laki yang mau bersusah payah mengenal lebih dalam jiwa yang terperangkap dalam tubuku… dan bukan karena tubuh itu sendiri. Tubuh yang hanya berupa daging-daging yang sebenarnya bisa dibentuk ulang dan dirubah dengan mudahnya jika punya biaya untuk itu. Kalau mau, tubuh hitam bisa dibuat putih dalam sekejap. Seperti kebanyakan perempuan sekarang yang tidak bisa lepas dari pemutih di badannya. Atau obat-obat kimia yang membuat kulit cerah. Meski jika diperhatikan dengan seksama tipis bedanya dengan ikan berformalin… segar di luar, busuk di dalam. Muka berjerawat, tinggal bayar dokter ini, dokter itu. Hidung pesek dimancungkan tambah silikon, mata dibesarkan, sudut bibir ditarik, suntik kurus dan voila!!! Jadilah perempuan cantik dalam waktu singkat. “Perempuan hias” yang siap untuk dipamerkan… siap jadi pajangan. SELAMAT MENIKMATI…!!!

Posted by Liza in 02:46:23
Comments

Leave a Reply