Manusia Matre
Tadi malem gue sama suami cerita-cerita tentang Manusia-Manusia Matre yang gak berguna yang menghuni planet bumi ini. Kita berhasil mendapat rumusan bahwa Manusia Matre adalah manusia yang menilai orang lain hanya dari harta benda-nya (basi banget ya?? Semua orang juga udah pada tau arti kata “matre” kaliii hehehe…)
Suami gue baru balik dari AF (kalo di Jakarta namanya CCF, pusat kebudayaan Perancis) dan lagi membahas mengenai pengeluaran bulanan. Ada yang pengeluaran bulanannya 1 juta, 2 juta sampai 5 juta. Pas giliran suami gue, mereka yang kaget dan terheran-heran waktu tau pengeluaran bulanan kita sekitar 15-20 juta untuk kebutuhan sehari-hari plus gaji karyawan, listrik, air etc. Keliatan banget dari wajah mereka yang terpesona dan kemudian sikap mereka jadi lebih ramah sama suami gue. Mereka gak nyangka suami gue yang tiap ke AF selalu pake sepeda dan dengan penampilan yang selalu lecek ternyata “berpunya”.
Soal “sepeda” itu sebenernya ada cerita dibalik itu. Karena ekspansi Amerika biadab ke Irak menyebabkan harga minyak naik di seluruh dunia, menyebabkan daya beli menurun, menyebabkan “napas” perusahaan sendal kita yang biasa ekspor barang, jadi tersendat-sendat juga. Ditambah lagi suami gue abis kena demam berdarah yang biaya penyembuhannya menguras ludas seluruh dana dikas kita . Akibatnya motor kita ditarik dealer karena gak mampu bayar cicilan selama 3 bulan berturut-turut, setelah itu kita sengaja menurunkan standar hidup kita. Dengan penuh kesadaran, kita mengatur strategi untuk kelangsungan hidup kita dan kelangsungan hidup karyawan-karyawan yang bergantung pada kita. Kita berpikir untuk hidup “lebih” sederhana lagi. Pengeluaran pribadi yang tadinya sekitar 10 juta per-bulan bisa kita pangkas jadi cuma 1 juta per-bulan. Dan kita tetap bisa menikmati hidup.
Ada hikmah dibalik penarikan motor oleh dealer, karena kita jadi kepikiran untuk menggunakan sepeda. Selama ini kita berniat buat olahraga karena lemak udah berlebih, tapi gak bener-bener melaksanakannya. Sejak ada sepeda banyak banget keuntungan yang bisa didapat. Olahraga dapet, hemat juga dapet. Sepeda gak memerlukan perawatan apapun dan gak mengeluarkan biaya apapun. Kalo dengan 1 juta kita cuma bisa bayar cicilan motor per bulan, dengan uang yang sama kita bisa beli cash sepeda yang keren banget (trendy, ringan dan kuat tentunya).
Udah gitu untuk makan, selama ini kita bisa keluar uang berjuta-juta buat beli bahan makanan yang gak perlu (misal: mozarella cheese, french fries, paprika, brokoli, etc) & buat makan di luar atau sekedar nongkrong di Starbucks. Dengan kesadaran penuh, kita mencoba ekstrim untuk belanja bahan makanan Rp.10.000/hari dan gak boleh lebih dari itu. Dan hasilnya… it works!!! Kita tetap bisa memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin & mineral. Dan ironisnya hidup kita jadi jauh lebih sehat dibandingkan sebelumnya yang doyan banget makan junk food and we must pay for our own fast death.
Dan sekarang perusahaan kita udah mulai berjalan lancar karena hanya dibutuhkan beberapa bulan supaya perekonomian kembali stabil. Pengeluaran kita tetap 1 juta per-bulan dan kita tetap bisa hidup nyaman dan bahagia tanpa kendala apapun. Sementara sekarang ini pendapatan kita semakin bertambah. Padahal itu cuma efek dari strategi menurunkan standar hidup.
Yang lucu adalah semua karyawan-karyawan kita punya motor dan bahkan seorang diantaranya ada yang ber-mobil sementara kita tetap keukeuh ber-sepeda. Banyak banget yang ngetawain kondisi itu. Banyak yang bahkan jadi mandang sebelah mata, ya Manusia-manusia Matre itu, but who cares?? Life is a choice kan? Tapi sebenernya gak banyak juga sih Manusia Matre yang kita kenal di Bali ini. Cuma segelintir aja kok. Karena di Bali (baca: Kabupaten Badung dan sekitarnya) kondisinya rata-rata kaya gitu. Ada bapak-bapak yang pakaiannya lusuh dan tetap jual teh botol di pinggir jalan, padahal dia punya beberapa hotel. Ada anak pantai yang rambutnya “pirang buceri” kaya anak kampung, tapi punya mobil Ferrari.
Beda sama kehidupan konsumtif dan pamerisme di kota-kota besar di Indonesia (khususnya: Jakarta sebagai ibukota). Jamannya gue dikenalin sama salah satu sodara suami gue, dia langsung mandang sebelah mata dan dia pikir gue anak tukang sate karena penampilan gue sederhana banget. Pas dia diundang makan ke rumah gue dan tau bokap gue tajir berat dan punya banyak perusahaan, eh dia langsung berubah jadi hormat dan kemudian jadi menjilat-jilat berlebih gitu. What the hell?!!
Dulu gue hidup di Jakarta gak bisa menilai budaya itu, karena gue terlibat di dalammnya kan? Pada saat itu gue sama seperti orang kebanyakan yang menganggap naik bajaj gak gaya, punya babysitter keliatan tajir atau gue bakal terpesona dengan cowok yang pakai “GUESS” dibanding kuli bangunan yang ganteng tapi pake jeans merk “Edwina”.
Mungkin kalo orang lain yang standar hidupnya tinggi, gak bakalan mampu menurunkan standar hidup ke level paling rendah. Gak banyak yang bisa begitu rasanya. Karena mereka menganggap harus ada yang dikorbankan, dimana yang dikorbankan itu justru sesuatu yang gak penting. Sesuatu yang mereka sebut dengan pengorbanan itu adalah GENGSI. Waktu jamannya gue jadi penyiar, berapa sih bayaran gue. Minim banget, tapi gengsinya dong GUEDE euy! Atau coba aja liat para artis sinetron yang harus mengeluarkan uang berjuta-juta untuk memenuhi kebutuhan penampilan mereka. Bayaran sinetron paling berapa sih? Tapi biaya yang dikeluarkan untuk menyeimbangkan label “selebritis” mereka… wuidihhhh! Makanya mereka butuh banget jadi simpenan pejabat korup atau pengusaha, cari suami kaya yang bisa memenuhi gaya hidup konsumtif mereka. Buat clubbing tiap malem aja paling gak harus keluar 1-2 juta untuk beli minuman dan inex dan sebagainya yang sebenernya gak benar-bener diperlukan, gak benar-benar menikmati pun.
Hidup udah makin susah, tapi kebutuhan orang akan pamer semakin meningkat. Dan hal itu jadi masalah, yang jelas-jelas so last year…! Sementara orang-orang yang bener-bener hidup kesusahan semakin bertambah (kalo kata kompas: “61 tahun kita merdeka masih ditindas kemiskinan, siapa penjajahnya? “), tapi masih banyak orang yang dilanda masalah-masalah basi. Tetangga sebelah kesusahan, tapi kita dengan mengatasnamakan “suruhan agama” cuek aja bolak-balik pergi haji pake fasilitas ONH Plus yang so obvious cuma buang-buang duit aja. Alasannya: biar jaman makin susah, tapi gue tetep bisa naik haji tiap tahun, gengsinya dong…! Weksss… pikiran-pikiran semacam itu yang ngebuat gue jadi ketawa pilu dan rada menggigil juga.