Wednesday, November 4, 2009

Ola si Sepatu Bola

Judul di atas adalah judul novel pertama gue, yang gue ajuin ke Gagasmedia buat diterbitkan (soalnya kalo kirim ke Gramedia rada minder gitu). Kirim ke Gagasmedia juga harus nunggu kabar 3 bulan dan gak tau bakal diterbitin apa enggak. Novel ini bercerita tentang seorang cewek kelas 1 SMA bernama Ola, yang sama sekali jauh dari citra cewek cakep, tapi PD-nya selangit dan wawasannya luas. Karena Ola gak pernah jaim alias selalu tampil apa adanya, bahkan di depan cowok yang dia suka sekalipun, Ola malah bisa ngebuat tuh cowok jatuh hati sama dia. Ola dikelilingi orang-orang yang gak biasa. Misalnya bonyok yang selalu ringan tangan, Tino adiknya yang bermuka dua, Marudut pembantunya yang berbadan gede tapi nyalinya gak ada, dan Jepur sobatnya dari SD yang penampilannya seperti Tessi srimulat, tapi cewek tulen.

Yup that`s right…!!!It`s another teenlit!

Jangankan lo, gue aja udah bosen ngeliat novel-novel berbau teenlit atau chicklit yang udah bertumpuk-tumpuk di toko buku. Dari mulai yang kacangan dengan cerita cinta standar, sampai yang keliatannya berbobot dengan melibatkan kehidupan Yuppies. Jangankan buat baca, buat milih mana yang bagus aja butuh kesabaran ekstra. Kadang-kadang kalau udah nemu yang kelihatannya bagus, pas semangat buka sampul plastiknya dan gak sabar pengen baca, eh… isinya kampungan gak bermutu. Langsung nyesel keluarin uang untuk beli buku yang gunanya cuma bisa buat pengganjel lemari baju, sambil merutuk dalam hati dengan omelan semacam: “Gue juga bisa bikin novel yang lebih bagus dari ini!” atau “Novel kacangan gini sih, gampang banget buatnya…” atau “Kok ada ya penerbit yang mau menerbitkan novel kampungan kaya gini…!”

But the question is… apa lo bener-bener bisa ngebuat kata-kata lo jadi kenyataan? Atau jangan-jangan lo cuma bisa komentar dan mengintimidasi karya orang lain, sambil mendongak dengan sombongnya dan ngerasa udah jadi manusia paling baik di muka bumi ini?

Diluar dari menghasilkan karya standar yang kampungan dan gak layak baca, gue asli salut sama cewek-cewek jaman sekarang yang udah berani mengekspresikan dirinya. Kalau mau dibandingin lagi sama jamannya Soeharto dimana cewek dianggap udah dilibatkan dalam pembangunan, tapi hidupnya gak jauh dari 10 prinsip PKK, yaitu:
01.  Hubungan keluarga
02.  Ekonomi rumah tangga
03.  Pendidikan anak
04.  Manajemen rumah tangga
05.  Makanan dan nutrisi
06.  Keamanan fisik dan emosional
07.  Kerumahan
08.  Rencana keluarga
09.  Kesehatan
10.  Pakaian dan kerajinan tangan
Jijay banget kan? Bukannya gue merendahkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan di atas, tapi… ya oloh… PKK yang dianggap sebagai gerakan perempuan nonpolitik, malah makin menajamkan bahwa peran perempuan cuma ada pada peran domestik yang fungsinya cuma jadi ibu buat anak-anaknya dan ibu rumah tangga doang!

Udah gitu masalah yang tetap aktual sampai sekarang seperti kekerasan pada perempuan, pelecehan seksual, diskriminasi upah, beban kerja ganda (wanita karier yang disatu sisi boleh bekerja di luar rumah, tetapi tetap harus mengurusi keluarga dan melayani suami di malam hari) ditambah dengan media massa yang seharusnya bisa membentuk opini publik buat mengembalikan posisi perempuan dalam marjinalisasi laki-laki, malah justru makin memelihara dan menempatkan perempuan sebagai obyek. Misalnya aja iklan produk diet, pelangsing tubuh, krim pemutih membuat cewek harus selalu keliatan ramping, singset, kurus persis tengkorak, tapi malah dianggap semua itu untuk menjaga dan merawat tubuh. Atau iklan yang selalu ada slogan “resep disayang suami”, membuat cewek harus selalu mampu mempersiapkan makanan dan minuman bergizi buat anggota keluarga. Terus kontes kecantikan yang katanya gak cuma mementingkan kecantikan dan “kekurusan” tubuh, tapi juga faktor intelektual si cewek, pada kenyataannya pemilihan-pemilihan tersebut lebih mendahulukan urusan kecantikan terlebih dahulu. Kalo gugur di seleksi “ukuran” (urusan tinggi-berat badan, rambut indah, senyum menawan, etc), penilaian terakhir baru deh urusan otak (ups… bego banget deh gue. Namanya juga kontes kecantikan, bukan kontes kecerdasan!).

Udah gitu masih ditambah dengan kekerasan yang justru dilakukan oleh media massa sendiri, misalnya sinetron-sinetron yang isinya tersirat bahwa cewek itu cengeng atau bahkan langsung jadi bulan-bulanan penyiksaan. Yang bikin gue makin heran… tiap bulan puasa menjelang lebaran, banyak sinetron yang judulnya dibuat se-religius mungkin, tapi isinya cuma seputar cewek yang disiksa, penderitaan seorang wanita yang teraniaya, perempuan malang korban mertua. Sementara pesan moralnya cuma ada dikittt banget, yang ditaroh di ujung sinetron dan cuma ditayangkan beberapa menit aja gitu. Dan anehnya sinetron-sinetron ini yang justru kebanyakan diputar di TV dengan dalih (lagi-lagi) rating. Udah gitu sinetron jenis ini justru malah disukai sama kebanyakan penonton perempuan.

Sebenernya susye juga jadi cewek. Ironis banget karena sampai saat ini masih banyak perempuan yang gak sadar kalau mereka udah jadi korban eksploitasi dan diskriminasi dalam dominasi budaya patriarkis (ceile bahasanya…!). Salah satu penyebabnya adalah ketidaktahuan perempuan karena kurangnya pengetahuan bahwa mereka telah menjadi korban dari diskriminasi. Kurangnya pengetahuan tadi disebabkan oleh kurangnya informasi yang beredar di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya dan kaum perempuan pada khususnya. Ironisnya lagi nih, seperti tadi gue bilang, media massa yang harusnya bisa berperan memberi informasi yang gak bias gender, eh… malah lenggang kangkung menempatkan perempuan semata-mata sebagai obyek yang menjadi sasaran berbagai tayangan pemberitaan, iklan, maupun sinema baik oleh media cetak maupun media elektronik.

Mengutip kata-kata gue sendiri, bahwasannya: Pencapaian kesetaraan bukan untuk menggulingkan kaum laki-laki atau untuk mencapai persamaan antara cowok dan cewek, karena secara kodrati keduanya adalah makhluk yang berbeda. Disamping itu “perbedaan” tidak sama artinya dengan “pembedaan” dimana kedua makhluk ini dibeda-bedakan sehingga makin berkembangannya bias gender di masyarakat. Tapi pencapaian tersebut dapat terwujud jika ada kesadaran bahwa justru bakal rugi besar bukan saja bagi kaum perempuan, tetapi juga bagi kaum laki-laki, kalau cewek disubordinasikan. Coba deh gue tanya sama para cowok nih ya, sampe kapan lo bisa tahan gak ngeluarin air mata buat mengekspresikan perasaan lo? Hayuh… soalnya air mata identik sama perempewi toh!

Seiiring perkembangan jaman posisi perempuan malah dihadapkan pada persimpangan jalan dan berada dalam situasi dilematis dimana disatu sisi pengen mandiri menunjukkan identitasnya sebagai seorang individu, tapi disisi lain merasa aman dengan pola ketergantungan yang masih ada di dalam masyarakat. But that`s fine…! karena nanti bakal ada seleksi alam sendiri soal mana perempuan yang berjalan di rel: “gue harus maju” atau “gue adalah gue dan bukan ‘mamanya Siska’, atau bukan ‘istrinya Udin’, compare with perempuan yang “hanya ada”.

One thing for sure, nowdays… kesempatan terbuka luas untuk siapa saja, tinggal bagaimana kita memanfaatkan kesempatan-kesempatan tadi. Mau bikin novel kacangan, sok atuh. Mau mengekspresikan diri lewat puisi, silahkan. Atau seperti gue yang selalu kurang kerjaan ngeluarin isi otak gue lewat tulisan dan iseng ngirim ke milis? Ya gak pa-pa juga sih, selama belum ditendang sama moderatornya. Hehehe…

Posted by Liza in 02:17:15
Comments

Leave a Reply