Wednesday, November 4, 2009

REBEL

Lagi-lagi tadi malam gue gak bisa tidur. Otak gue juga lagi gak bisa diajak kompromi buat mikir. so… iseng-iseng gue baca majalah Hai jadul punya adik gue, isinya soal REBEL. That`s right! Sebelumnya bagi gue REBEL itu gak ada artinya sama sekali, bahkan gue gak mengenal orang-orang rebel di sekitar gue. Tapi begitu gue baca artikel-artikel di dalamnya, kok isinya banyak yang “gue” banget ya. Apa mungkin gue seorang rebel?

Adalah salah satu temen gue yang sama nyablaknya dengan gue (baca: apa yang dipikirin di perut, keluar lewat mulut), pernah komentar kalau gue itu “berbeda”. Trus gue jawab “Emang salah kalo kita “beda”? “Ya gak salah sih, cuma “beda”-nya lo tuh ke-kiri-kiri-an.” Dengan polosnya gue jawab “oh… “beda” itu harus ada syaratnya ya? Gue baru tau.” Mungkin karena mangkel, kesel & gondok temen gue itu malah ngomelin gue: “Masalahnya bukan pake syarat apa enggak, tapi “beda”-nya lo itu gak bisa diterima.”

Setelah gue memikirkan dan mencerna kata-kata temen gue tadi, gue baru bisa manggut-manggut… pantesan selama gue hidup, banyak banget orang-orang yang memilih menjauh dari gue. Pantesan cuma segelintir orang yang mau bersahabat dan bisa nerima gue apa adanya serta cuma satu orang yang memahami gue. Gue mulai mengkaitkan ke-ekstrim-an gue dengan konsep REBEL versi HAI.

Menurut gue sebenernya sifat-sifat rebel itu ada di tiap-tiap diri manusia. Cuma karena sifat manusia itu berlapis-lapis dan saling tumpang tindih, ditambah lagi dengan norma-norma yang menolak adanya konsep rebel, ngebuat sifat rebel menjadi semakin terkubur. Cuma orang-orang yang punya niat baik dan kemauan keras sajalah yang mampu menggali & mencongkel ke-rebel-annya.

Mungkin selama ini gue dianggap rebel karena gue berada di lingkungan yang “salah”. Maksutnya gini, tiap manusia, sadar maupun tidak sadar, ikhlas ataupun terpaksa, hidup terkotak-kotak dalam suatu kelompok masyarakat. Semua kelompok ada klasifikasi masing-masing. Si bapak anu bekerja di perusahaan ini, punya keluarga inu, dan ada perkumpulan pengajian oni. Si ibu una punya keluarga uni, gabung dengan arisan eni, etc. Si tante seniman tulen, nongkrong bareng komunitas seni-nya, hidup dengan idealisnya, etc.

So (sambil membela diri)… bisa jadi sebenernya gue bukan termasuk REBEL atau orang ekstrim yang ke-kiri-kiri-an seperti kata temen gue. Bisa jadi gue adalah seorang jenius yang berada di waktu dan tempat yang salah. Tidak jauh berbeda dengan Copernicus yang dianggap pengkhianat oleh Gereja karena hipotesa “Heliocentris”-nya atau Monet dengan hasil karyanya yang dilabeli “impresionisme” oleh para kritisi untuk menghinanya. Gak segitunya kali! sindir gue dalam hati. But… who knows?

Maka, menurut gue, menjadi rebel itu gak apa-apa. Dalam kitab Lizaism hukumnya halal. Gak ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Mau rebel kiri, mau rebel kanan, rebel atas-bawah, rebel diagonal pun sah hukumnya… terserah aja. Tentang yang perlu ditentang, lawan yang perlu dilawan, use your own instinct!

Jadi wahai sodara sodari sekalian, bangkitkan REBEL dalam diri anda!

Posted by Liza in 03:05:38
Comments

Leave a Reply