Wednesday, November 4, 2009

Harap maklum!

Indonesia ada dengan sendirinya. Negara yang muncul tanpa konsep. Yang penting merdeka dulu. Urusan kebijakan, urusan undang-undang, urusan sistem, belakangan, nantinya ngikutin. Yang penting adil dan merata. Prinsip adil dan merata dalam mengatur manusia disamakan dengan prinsip itungan matematika: 10 dibagi 5 sama dengan 2. Kepadatan penduduk di Jawa diatasi dengan transmigrasi. Penduduk Jawa ditransfer ke daerah sini, daerah sono, daerah setuh. Sepintas kelihatan sukses, tapi dibalik itu malah muncul masalah prinsipil. Karena para pendatang sering berbuat seenaknya di daerah orang lain dan tidak menghormati adat istiadat yang berlaku di suatu daerah, akibatnya muncul konflik antar etnis, konflik agama, konflik, konflik dan konflik. Satu-satunya cara multifungsi buat mengatasinya adalah dengan kekuatan militer. Sekalian menyelesaikan masalah, sekalian tes penempatan, sekalian praktek ilmu. Nyawa manusia melayang gak ada harganya. Kuburan massal dimana-mana. HARAP MAKLUM!

Program yang dirancang (entah siapa yang merancang program ini tanpa memperhatikan aspek antropologis & psikososial terlebih dahulu) untuk mengurangi tekanan kepadatan penduduk dianggap berhasil (gak tau deh apa yang jadi tolak ukur keberhasilannya), tapi tidak dibarengi dengan pemerataan pembangunan. Papua yang jadi tambang emas terbesar di dunia (meskipun selama puluhan tahun kita “diajarin” kalau Papua kaya akan tembaga, sampai kota tempat tambang emasnya dikasih nama Tembagapura), tapi orang Papua sendiri hidup dibawah garis kemiskinan dengan kondisi gizi buruk, fasilitas kesehatan dan pendidikan minim. HARAP MAKLUM!

Aceh kaya akan hasil laut, bahan tambang, kayu, minyak dan gas. Tapi di Unsyiah (Universitas Syiah Kuala) malah tidak tersedia jurusan Pertambangan, Perminyakan, Kelautan dan Kehutanan meskipun pihak Unsyiah sudah berulang kali minta jurusan itu dibuka sejak jaman kapan. Efeknya, ketika di Aceh bermunculan perusahaan multinasional seperti jamur di musim hujan yang mengeksploitasi kekayaan alamnya, orang Aceh tidak bisa terlibat di dalamnya kecuali jadi penonton. Alasannya jelas, skill tidak mencukupi. Aceh yang pernah menjadi bangsa besar jauh sebelum Indonesia ada, memiliki sejarah perjuangan yang sangat panjang, kaya akan keragaman budaya dari beragam suku bangsa penduduknya. Tapi sampai detik tulisan ini dibuat, di Unsyiah belum ada jurusan Antropologi, Psikologi dan ironisnya dalam fakultas Sospol, hanya ada jurusan Ekonomi dan Hukum. Penuntutan hak yang dipandang sebagai pemberontakan, lagi-lagi diatasi dengan kekuatan militer. Media yang seharusnya menjadi alat untuk “membuka mata” masyarakat Indonesia khususnya, lumpuh total di area konflik ini. Gimana enggak? Wartawan yang benar-benar berniat meliput di Aceh harus selalu dikawal ketat oleh tentara. Wartawan yang cuma mau cari makan, ongkang-ongkang kaki di kamar hotel dengan berita yang di copy paste dari wartawan asing dan foto yang dibeli dari Reuters. HARAP MAKLUM!

Buruh tani di Jember dibayar hanya Rp.8.000,-/hari, dengan jam kerja dari pukul 8 pagi sampai jam 4 sore, tanpa uang makan. Begitu juga dengan buruh perkebunan kopi di Bondowoso yang bayarannya minim dan jam kerja tinggi. Pendapatan rata-rata masyarakat Indramayu sekitar Rp.4.000,-/hari dan tingkat pendidikan rata-rata hanya mencapai kelas 4 SD. Salah satu akibatnya banyak perempuan yang kemudian mencari nafkah sebagai PSK atau bahkan dijual oleh orangtua mereka ke germo. HARAP MAKLUM!

Soeharto mendapat penghargaan dan diakui dunia karena dianggap berhasil menekan pertumbuhan penduduk dengan cara Keluarga Berencana singkatnya KB. Orang yang tidak punya latar belakang pendidikan medis sekalipun, asalkan diberi instruksi sekedarnya oleh dokter, sudah legal memasang alat kontrasepsi di pelosok-pelosok desa. Akibatnya banyak ibunda yang meninggal dunia karena infeksi yang timbul akibat pemasangan alat kontrasepsi yang asal-asalan. Banyak juga yang merasa terpaksa untuk memasang alat kontrasepsi dengan alasan tidak enak jadi omongan tetangga kalau menolak untuk dipasang. Tingkat pertumbuhan berhasil ditekan seiring dengan tingginya tingkat kematian. HARAP MAKLUM!

Fasilitas pendidikan yang lebih baik cuma ada di kota besar. Fasilitas medik dan pelayanan kesehatan lebih baik dan lebih mudah diperoleh di daerah perkotaan dibanding pedesaan. Jakarta sebagai Primate City (kota tunggal utama) tidak dapat membendung arus urbanisasi. Muncul manusia-manusia tanpa identitas yang membangun “rumah kardus” dan menjadi penghuni liar selama puluhan tahun di bawah kolong jembatan, rel kereta api dan daerah pinggiran. Tinggal nunggu nasib buat digusur dengan alasan yang dibuat-buat seperti tidak adanya surat kepemilikan tanah yang sah. Padahal segepok uang udah masuk ke kantong pemerintah buat bikin mall, real estate yang justru semakin merusak tata kota. Jakarta, kota apartheid, tidak menyediakan lahan untuk orang miskin, tetapi selalu menerima banjir dengan tangan terbuka. HARAP MAKLUM!

Mau bikin KTP, birokrasi ribet (kalau ada yang susah, buat apa dipermudah?). Punya KTP pun gak terlalu berpengaruh, secara satu orang aja bisa bikin 20 KTP cuma dengan modal DUIT. Akibatnya masyarakat tidak terdata. Data manual bermetamorfosis menjadi komputerisasi cuma tinggal mimpi. Berurusan dengan KUA lebih repot lagi. Mau kawin dengan cara paling sederhana aja, biaya yang dikeluarkan untuk bayar penghulu tidak sedikit. Di kantor KUA bolehlah menulis biaya minim buat menikah, tapi gak jauh dari tulisan tersebut penghulu-nya gak malu-malu menyebut nominal angka uang dalam jumlah besar. Beda tempat, beda harga. Bagian menikahkan orang di gedung, bagiannya penghulu senior karena jumlah nominal paling tinggi. Ukurannya: jika MC dibayar 2 juta, maka penghulu harus 2 kali lipat. Setelah sepakat dengan angka yang disebutkan, dengan sok sucinya sang penghulu akan berkotbah tentang kewajiban istri terhadap suami, bagaimana membina rumah tangga yang sakinah, warohmah, mawaddah sambil tersenyum ala Rhoma Irama. HARAP MAKLUM!

Jargon-jargon seperti “hormati gurumu”, “guru adalah pahlawan tanda jasa” cuma jadi hiasan di dalam kelas. Pekerjaan guru yang identik dengan pekerjaan terpaksa karena IKIP identik dengan sekolah buangan, ngebuat mental guru semakin melempem. BOS yang sudah diberlakukan dan kebusukan-kebusukan dalam dunia pendidikan yang terus menerus menjadi sorotan media massa, ngebuat posisi guru semakin terdesak dan terpojok. Gaji tetep mini, mungil dan kecil, tapi harga barang terus melonjak tinggi. Harus pinter-pinter cari usaha sampingan dan harus punya banyak taktik dan cari celah buat nge-bisnis-in apa yang bisa di-bisnis-kan. Minta uang sama orangtua murid waktu kenaikan kelas udah gak pake malu-malu lagi. Ngomong ke orangtua buat ngebantuin anaknya masuk ke sekolah favorit lewat jalan belakang udah gak pake bisik-bisik lagi. Sekarang udah bukan jamannya ngasih kain atau beras ke guru sebagai tanda terima kasih. Kalau nasib anak mau tetap sejahtera, minimal ngasih handphone. Sekarang jaman teknologi bo! HARAP MAKLUM!

Sekalinya mau mendapat pendidikan berkualitas, di sekolah boafid dengan guru-guru yang bonafid perlu biaya besar. Perlu uang lebih, buat pamer asesoris, pamer pakaian, pamer kendaraan, pamer, pamer. Akibatnya “sekolah” cuma buat orang kaya yang duitnya didapat dengan menipu dan merampas hak orang. Orang miskin gak punya tempat buat sekedar icip-icip pendidikan. Jangankan buat sekolah, buat ganjel perut aja masih pas-pasan. Yang dilihat mata, orang kaya seliweran pake HP naik sedan. Yang didenger kuping, orang kaya dipuja, dipuji dan dijilat. Yang dihirup hidung, aroma bread talk dan kopi starbucks plus cemilan junkfood yang dikonsumsi oleh orang kaya. Perut makin keroncongan dan kecemburuan sosial gak bisa dibendung lagi. Akibatnya tingkat kriminalitas semakin tinggi. Karena yang jadi kriminal adalah orang miskin alias cuma modal nekat dan gak punya uang untuk “beli” pengacara, nasibnya dikebiri dan jadi kebanggaan para polisi buat diceritain ke anak cucu, tetangga-tetanggi, sodara-sodari karena berhasil menangkap maling kelas teri dan masuk TV. HARAP MAKLUM!

Banyak manusia yang memandang manusia lain ibarat lidi yang patah kalau cuma satu, tapi tidak bisa dipatahkan kalau banyak alias bersatu kita teguh bercerai kita runtuh alias bhineka tunggal ika. Manusia bisa diatur seperti itu kalau manusia seperti robot yang di-set sama, homogen. Sementara kembar identik sekalipun berbeda satu sama lain, apalagi antar manusia yang satu dengan manusia yang lain. Satu kepala banyak maunya, apalagi jutaan kepala. Beda etnis, beda budaya, beda maunya. Dipaksa buat nurut sama satu kebijakan yang berlaku untuk semua, akibatnya amburadul. Punya pemimpin yang niat mensejahterakan rakyat aja, masih ada yang ngerasa diperlakukan semena-mena. Apalagi kalo pemimpinnya lebih mementingkan ego di atas segalanya? Korupsi dimana-mana, hak orang banyak diambil. Orang yang menginjak-injak kehidupan orang lain demi nafsu sendiri, biar dijelasin sampe mampus juga gak bakalan ngerti. HARAP MAKLUM!

Posted by Liza in 02:15:52 | Permalink | No Comments »

Di Supermarket

Buat para ibu-ibu dan bapak-bapak, sodara dan sodari sekalian… yang namanya belanja bulanan itu hukumnya wajib (eh… sok tahu ya gue?). Paling enggak sekedar buat beli softex, sabun, shampo, deodorant atau kebutuhan-kebutuhan sepele lainnya.
Nah… waktu itu gue lagi belanja bulanan sama suami dan anak gue ke Alfa –Gudang Rabat-. Biasanya tiap belanja bulanan, otak gue terfokus sama daftar belanjaan yang udah disiapin dari rumah. Kenapa harus dibuat daftar dulu? Soalnya kalo gak dibikin daftar, nanti yang harusnya dibeli malah gak kebeli, dan yang gak seharusnya dibeli malah dibeli. Mubazir khan?
Tapi bukan itu point-nya. Kali ini kegiatan belanja bulanan gue di supermarket adalah memperhatikan keadaan sekitar. Gak penting sih… tapi jadi pengalaman baru buat gue. Gimana engga, kegiatan belanja bulanan sebenarnya udah dimulai sejak gue masih kuliah, pas gue tinggal jauh dari orangtua dan gue harus memenuhi kebutuhan gue sendiri. Soalnya sebelumnya ya… gue tinggal ngasih list aja ke nyokap buat sekalian beliin kebutuhan gue.
Nah sejak gue kuliah, kalo mau belanja ya emang karena gue pengen belanja. Tapi sekali lagi, kali ini berbeda. Seperti yang tadi gue bilang, gue gak sengaja memperhatikan keadaan sekitar.
Dari mulai memasuki supermarket, gue nguping seorang ibu-ibu yang mengancam anaknya, ”Awas ya jangan minta macem-macem!”. Terus pas belanja gue cekikikan sendiri ngeliat ibu-ibu yang sibuk nyari susu yang kalengnya mulus tanpa penyok dan bikin berantakan susu-susu lain yang udah disusun rapi, padahal yang diambil cuma 2 biji doang.
Ada juga seorang bapak yang udah dekat kasir, kemudian berhenti sejenak dan ngeluarin daging dari troley-nya terus diletakkan begitu aja di atas tumpukkan coklat-coklat sebelum meja kasir.
Pas gue bayar belanjaan, gue baru ‘ngeh kalau para kasir itu gak pada duduk dan gak ada bangku sama sekali.
Iseng-iseng gue tanya ke kasirnya, “Mbak gak capek berdiri terus?”
“Ya capek lah bu.” Jawab sang kasir (Damn! Gue dipanggil ibu aja gitu!).
“Kenapa bos-nya gak ngasih bangku mbak?” tanya gue lagi.
“Waduh gak boleh bu. Yang boleh duduk cuma yang lagi sakit aja.” Jawabnya polos.
“Terus kenapa gak diaduin ke Organisasi Buruh mbak?” desak gue gregetan gak habis pikir sama isi otak bos-bos KEPARAT yang punya supermarket.
“Wah, saya gak ngerti yang kaya gitu-gitu mbak!” (sumpah tuh kasir ngomong persis kaya gitu), “Lagian kalo saya ngadu-ngadu, nanti malah saya dipecat. Mana suami saya gak kerja, anak saya mau makan apa?” (Gue baru inget tipikal orang Bali justru malah cowok yang ada di sektor domestik, seperti mengurusi anak dan cewek di sektor publik, seperti bekerja di luar rumah. Dan decision making tetap ada di tangan suami).
“Ohhh…!” gue cuma bisa mendesah panjang.
Pas mau pulang, gue sempet ngeliat seorang bapak yang nge-gampar anaknya yang umurnya kira-kira 8 tahun, cuma karena tuh anak gak sengaja menjatuhkan nyam-nyam yang lagi asik dia makan. Kasian banget deh anak itu, udah pasti dia sedih karena nyam-nyam nya jatuh, eh… masih ditambah dengan tamparan ayahnya yang keras banget.
Seru banget kalo kita mau sedikit meluangkan waktu buat memperhatikan keadaan sekitar. Mungkin rasa kemanusiaan bakal sedikit muncul karena empati kita tiba-tiba timbul. Makanya gue teringat waktu lagi asik dibonceng motor sama suami gue, gue pernah bilang ke dia, ”Andaikan presiden kita sekali aja kabur dari istana dan mengendarai motor keliling Jakarta ke kawasan kumuh dan bener-bener ngeliat, mendengar dan mencium aroma kemiskinan, mungkin harga BBM gak jadi dinaikkin kali ya????” teriak gue ke suami.
Trus suami gue cuma angkat bahu dan bilang, “Gak tau juga ya, Indonesa gituh!”

Posted by Liza in 02:13:58 | Permalink | No Comments »

Aku mau jadi…

Gue mau tanya sesuatu nih, apa sih cita-cita lo?

Gue sendiri waktu kecil pengen banget jadi Astronot, waktu nonton rekaman Neil Armstrong jalan-jalan di bulan. Terus pas kagum ngeliat orang jago nge-break gue pengen banget jadi breaker. Pas jatuh cinta sama dokter gigi langganan, pengen banget jadi dokter gigi, pas dipaksa nerusin perusahaan bokap, pengen banget jadi insinyur, and so on and so on…bla bla bla.

Asik ya waktu kecil, imajinasi bisa ngebikin kita percaya jadi “sesuatu” itu gampang dan keliatannya asik banget. Jadi dokter contohnya, tinggal suntik…cus, duit masuk kantong. Wuidih!!! Gampang banget. Padahal sebenarnya gak sedikit waktu yang terbuang buat ngapalin penyakit-penyakit yang njelimet, gak sedikit duit yang harus keluar buat masuk sekolah kedokteran, gak sedikit mayat yang dibedah waktu belajar soal organ-organ tubuh, gak sedikit juga orang yang makin sakit atau justru malah langsung cepat mati cuma gara-gara-gara malpraktek yang kasusnya ribuan.

Nah… impian-impian indah gue semasa kecil udah masuk tong sampah semua tuh! Satu pun gak ada yang terwujud. Sekarang gue jobless (dalam arti gak kerja dibawah aturan orang melainkan bikin pekerjaan berdasarkan aturan sendiri, alias wiraswasta gituh!) bersama suami dan anak tercinta yang umurnya baru 1 tahun. Sejak masih dalam kandungan, gue sering banget nge-dongeng-in anak gue. Seru! Bisa sharing banyak hal sama anak sendiri. Tapi karena cerita anak yang gue tau terbatas dan seiring pertambahan usia, rasa ingin tau anak gue semakin besuuuaaar (sekarang lagi doyan menunjuk sesuatu dan bertanya: “Ini apa bunda?”, gue hunting buku cerita anak-anak di berbagai toko buku. Dan apa yang gue temukan waktu hunting itu? Oh my God! Ternyata banyak banget cerita anak-anak yang gak bonafid alias butut punya.

Misalnya aja cerita legenda Malin Kundang yang berasal dari Sumatera Barat, ya ampun!!! Cerita semacam itu, bagi gue cuma buat memojokkan anak-anak aja. Gara-gara cerita seperti itu anak-anak jadi takut buat ngelawan orangtua karena takut dikutuk jadi batu seperti Malin Kundang. Heran gue! Kok buku cerita anak-anak dibuat seolah-olah membenarkan sikap orangtua ya? Atau buku belajar baca yang gak kalah kadaluarsa dan belum juga diperbarui seperti: “ini ibu Budi. Ibu Budi sedang memasak di dapur. Ayah Budi sedang membaca koran. Wati adalah kakak Budi. Ia sedang menyapu halaman.” Dari kecil aja, anak-anak khususnya perempuan udah diajarin buat termajinalkan alias terpinggirkan alias dinomerduakan dan udah nasibnya terjun ke sektor domestik. Padahal katalog Ikea yang ngejual furniture dapur, tampilannya bapak-bapak yang lagi masak sama anak cowoknya.

Bukan… bukan maksut gue nge-judge mana yang bener dan mana yang salah. Gue cuma mau ngasih gambaran aja kalo sampai detik ini nasib anak-anak di Indonesia masih belum diperhatikan. Tontonan buat anak-anak aja cuma seputar film-filmnya Nickelodeon, Spongebob, Dora sama Barney yang asalnya dari luar dan bukan bikinan kita sendiri. Si Unyil sempet nongol lagi sih, tapi kok cuma bentaran ya? Sementara Si Komo yang menyebabkan macet malah sama sekali gak dikenal sama generasi anak-anak jaman sekarang. Gue tau banyak banget yang cinta sama anak-anak dan care berat sama dunia mereka. Ada beberapa diantaranya yang nawarin pertunjukkan Puppet Show dari mulai yang menggunakan tali, menggunakan tangan sampai pake lidi kaya wayang, ke stasiun-stasiun TV. Tapi ya… u know lah, it`s all about money.

Sinetron? Menghasilkan duit. Infotainment? Menghasilkan duit. Reality show yang kemasannya dibuat se-terharu mungkin? Menghasilkan duit. Acara polisi ngegebukkin maling kelas teri? Menghasilkan duit (Ya iyalah bego! Kalo polisinya ngegebukkin maling kelas kakap yang bermobil Jaguar keluaran terbaru dan tinggal di apartemen mewah semacam Da Vinci, Sudirman yang harga satu unitnya paling murah 22 milyar, bukan menghasilkan duit. Tapi langsung ditutup tuh televisi swasta yang menayangkan acara itu. Lagipula, entah polos atau lugu atau lemot ya… huahuahuahuahuaha… sampai Dinosaurus bangkit dari kubur juga, gak bakalan ada polisi yang bakal mengebiri maling kelas kakap kaya gitu. Secara duit adalah segalanya lah yaw! Jadi cuma orang-orang miskin yang terpaksa jadi maling lah, yang cocok buat diperlakukan tidak manusiawi gitu).

Acara anak muda? Hmmm… gue gak tau apa Mtv Indonesia masih layak disebut sebagai acara yang identik dengan dunia anak muda yang dinamis. Secara acaranya basi banget, Vj-nya modal tampang yang direkrut karena asas per-teman-an dan acara off air-nya sok eksklusif berat tapi pathetic. Misalnya aja waktu acaranya Mtv Asia Vj Hunt 2005 –Summer of Fun- (bener gak nulisnya?) yang diadain di belakang Discovery Mall, depan pantai pas sunset. Mungkin bayangan panitia, bakalan sensual, berkelas dan seru banget kali ya secara Bali adalah island of bikini maka acara mereka bakal penuh dengan cewek-cewek berperut rata yang ber-bikini ria dan cowok-cowok yang berperut kotak-kotak yang berkeringat dan diterpa lembayung senja. Tapi nyatanya…? Gue kasian banget sama panitia yang saking desperate-nya malah berpanas-panasan bagi-bagi undangan di pantai Kuta ke bule-bule yang gak ngerti apa-apa pada “detik-detik” terakhir menuju acara mereka. Tapi teteup… sepi banget euy! Orang-orang yang pada nonton nyantai aja duduk-duduk di tangga Discovery dan di depan panggung (yang jaraknya kira-kira 10 meter dari tangga) bener-bener plong gak ada orang sama sekali, padahal acara udah dimulai dan Vj Daniel sama Vj Rianti udah mejeng di depan mereka (untung gak dikerubutin laler!). Terpaksa deh buat menarik penonton biar mau maju ke depan karena image Mtv bakal jelek kalo acara internasional semacam itu malah keliatan sepi di depan kamera, mereka bagi-bagi merchandise dengan melemparkannya sedekat mungkin dari panggung. Emang sih ada beberapa orang juga yang akhirnya mau maju ke depan (termasuk gue, suami dan anak), tapi teteup aja… sepi! Nah makanya, berhubung acara buat anak muda udah lenyap dari muka pertelevisian Indonesia, anggap aja Mtv “enggak banget!”, still for youth. Dan karena acara anak muda udah kerangkul sama Global dengan Mtv-nya, jadi dianggep tidak menghasilkan duit juga kali yey (makanya gue sempet heran sama acara SCTV Music Award. Kok sebegitu lancangnya mereka bikin penghargaan untuk musik, padahal setau gue di SCTV gak pernah ada acara musik. Apalagi sekedar menampilkan video klip sebagai bridging antara acara satu ke acara lain). Apalagi acara buat anak-anak coba?

Maksut gue yang murni buatan dalam negeri (jadi bukan kartun Jepang dan semacamnya), udah bisa dipastikan karena tidak bakal menghasilkan duit, makanya gak pernah ada lagi pengganti Si Unyil (huhuhu… Pak Raden! I miss U so much!). Betapa sengsara-nya jadi anak-anak. Betapa menyedihkannya harus menjalani masa kanak-kanak dengan ketakutan mendalam akibat menonton sinetron religus yang lebih banyak “hantunya” daripada nilai agama (yak… mari kita kembali ke film oldskul jaman Suzana dimana setan bakal kabur dengan Bismillah!). Gue juga makin kesian sama anak-anak sekitar rumah yang ditakut-takuti sama orangtua mereka dengan mayat tertutup sebelah mata, mayat kepala terbelah, mayat belatung, dan sejumlah ensiklopedia per-setan-an yang makin bertambah banyak. Belum lagi ketakutan anak-anak buat mengkritik orangtua karena jargon-jargon semacam “surga di bawah telapak kaki ibu” atau “anak durhaka calon penghuni neraka”.

Gara-gara hal semacam itu gue jadi terinspirasi buat terjun langsung ke dunia anak-anak, meskipun gue sendiri belum tau bentuknya bakal seperti apa. Mungkin suatu saat gue jadi pengganti Kak Seto, who knows? Karena basically gue percaya kalo orangtua dan anak adalah tim dalam kemunitas terkecil. Gak ada yang harus memerintah dan gak ada yang musti dipatuhi, karena segala sesuatu seharusnya bisa didiskusikan. Dengan begitu yang namanya rasa hormat, rasa menghargai dan toleransi bakal tumbuh dengan sendirinya dan gak perlu diajarin lagi.

Selanjutnya gue mikir lagi, kalo gue terjun ke dunia anak-anak dan terlibat dengan berbagai anak, tapi orangtua-nya masih pada bolot alias otaknya belum di upgrade dan prosesornya masih urdu, ya sama aja boong, betul? Percuma dong gue “nyuapin” anak-anak sama bacaan semacam Totto-Chan, Dave Pelzer, Sybil atau tontonan semacam I not stupid, Virgin suicide and so on… kalo pada akhirnya anak-anak malah bakal jadi pemberontak karena sadar ternyata kehidupan mereka sangat tidak memuaskan. Atau mereka cuma mikir, “gila nih film, gue banget!” dengan tatapan nanar tak berdaya dan menyesal pernah dilahirkan.

Hmmm… what can I do to save those children? Aha!!! Gue harus terjun ke dua dunia, dunia anak sekaligus dunia orangtua. Udah waktunya nyokap-nyokap, emak-emak, bunda-bunda, mama-mama, mami-mami, ibu-ibu nonton film yang gue sebutin tadi dan sadar kalo orangtua tumbuh bersama anak. Jadi bukan cuma berkutat sama sinetron religius yang makin menguatkan takhayul-takhayul, atau tontonan gak guna semacam infotainment yang ngebuat mereka jadi kalap buat ngebikin anak mereka kaya ondel-ondel supaya anaknya bisa jadi artis terkenal. Udah waktunya juga bokap-bokap, babe-babe, ayah-ayah, papa-papa, papi-papi baca buku yang gue sebutin tadi dan sadar kalo dunianya bukan cuma kerjaan, kerjaan dan kerjaan. Sadar kalo para pria juga bertanggungjawab atas kelangsungan hidup anaknya dan bukan pura-pura lupa kalo pernah “nembakkin” sperma yang hasilnya adalah manusia. Jadi bukan cuma berkutat nontonin bola satu biji yang direbutin banyak orang atau film action yang ngebikin mereka jadi brutal menghancurkan fisik dan mental anak.

So… sekarang gue udah tau apa cita-cita gue dan apa yang harus gue lakukan buat mengisi perjalanan hidup gue. Bingung? Gue, udah setua ini masih mikirin cita-cita? Ya enggaklah gila! Selama lo belum mati, sampe tuir pun lo masih boleh punya cita-cita. Apalagi umur gue masih 23, masih muda banget kaleee… Kalaupun saat ini seluruh perhatian masih gue curahkan ke anak, paling sampai umur 3 tahun-an (karena otak berkembang pesat pada 3 tahun pertama usia manusia), selebihnya dia bisa cari tahu sendiri apa yang menjadi minatnya sekaligus bisa belajar mana yang baik dan mana yang buruk buat dirinya. Artinya 2 tahun lagi umur anak gue 3 tahun dan umur gue masih 25, pas seperempat abad, pas masuk usia produktif dalam siklus kehidupan manusia. Wow!!! Brilian…!!! hehehehe…

Nah itu dia… gue dengan cita-cita baru gue yang akan segera gue wujudkan, gimana dengan lo?

Posted by Liza in 02:12:00 | Permalink | No Comments »

Boker

Tadi pagi gue boker lamaaaa banget, mungkin karena udah 2 hari gak boker dan pencernaan juga lagi gak beres. Sambil boker lamaaaa, gue mikir lamaaaa juga. Sejak kapan ya gue mengganti kata Buang Air Besar atau Beol atau Berak jadi Boker? Hmmm, let`s see… 2 tahun? 3 tahun? Atau bahkan 4 tahun yang lalu? Waduh! Gue bener-bener gak inget deh kapan tepatnya, tapi yang jelas sejak SD gue selalu nyebut Boker tiap kali perut gue mules-mules.

Kalo dipikir-pikir banyak banget ya kata-kata aneh yang sering kita ucapin.Padahal kalau mau iseng nge-cek di Kamus Bahasa Indonesia, kata-kata itu mustahil bisa ditemukan. Misalnya Pacintot (Nah loh apa lagi tuh?!?). Waktu SMP gue sama temen-temen se-gank sering menyebut kelompok Cina tajir yang eksklusif dengan sebutan Pacintot. Kita sendiri gak tau artinya. Tapi pas denger dari temen sih katanya artinya itu adalah Pasukan Cina Ngentot (Gile kasar banget ya?). Karena ngerasa artinya terlalu menghujat, kita ganti jadi Pasukan Cina Ngotot. Jadi tiap kali kita jalan ke Kelapa Gading Mall (waktu itu belum ada PS, Taman Anggrek atau mega mall lain-nya), kita selalu teriak-teriak ke arah segerombolan anak-anak muda Cina dan menyebut mereka dengan Pacintot. Ada juga kata lainnya yang udah biasa kita ucapkan, misalnya: Keroncongan. Familiar kan? Kalau kita laper, langsung aja kita sebut Keroncongan. Tapi gue baru tau pas jaman gue siaran, ternyata Keroncongan itu adalah kata murahan alias “junk word“. Gue aja sempet kena damprat sama bos gue (baca: 3D), gara-gara sering make kata Keroncongan pas siaran waktu jam makan siang.

Selain kata, ada juga kalimat gak penting yang sering gue ucapkan, yaitu: as if seolah-olah. Banyak banget kesalahannya kan?
Pertama, as if dan seolah-olah adalah satu arti. Jadi kenapa harus digabung coba?
Kedua, kebiasaan menyelipkan Bahasa Inggris di antara kalimat Bahasa Indonesia emang udah jadi kebiasaan “norak” bangsa Indonesia, biar kesannya keren. Soalnya bukan apa-apa sih, mental bangsa Indonesia sebagai Bangsa Jajahan, merasa semua yang berbau luar negeri pasti oke.

Mungkin sambil boker, lo pernah sambil mikir kaya gue?

Posted by Liza in 02:08:34 | Permalink | No Comments »

Selamat Menempuh Hidup Baru

Waktu gue lagi gak bisa tidur (akhir-akhir ini rada insomnia kayanya), gue iseng-iseng sms pacar terakhir gue yang baru nikah. Sms gak penting sih, cuma sekedar ngucapin selamat nikah, semoga jadi keluarga sakinah, bla bla bla… pokoknya gak penting deh. Mungkin karena gue sms jam 4 subuh, dimana orang-orang masih asik mimpi… ya sms gue gak dibales.Tapi paginya (kira-kira jam 8-an), mantan pacar gue itu bales sms gue. Dan isi sms itu bener-bener bikin gue panas. Dia minta gue buat gak ganggu dia lagi, gak sms dia lagi buat selamanya karena istrinya jadi salah paham gara-gara sms gue semalem. “What the f**k is that??” pikir gue dalam hati. Emang dia pikir dia siapa? Dan please dong, gue juga udah nikah, udah punya anak dan bukan tipe cewek pengganggu rumah tangga orang.

Waktu gue lagi asik nonton Extravaganva dan ngeliat bintang tamunya adalah grup band PADI, gue tiba-tiba inget sama pacar kedua gue (yang juga udah nikah tapi belum punya anak), dan dia mirip banget sama Fadly Padi. Iseng-iseng gue sms dia, ngasih tau kalo dia lagi ada di Trans Tv. Dan jawabannya singkat aja: “I`m no longer your boyfriend anymore, so please dunno call me with that stupid name again. Oke?”. “Apa-apaan sih ?” pikir gue lagi dalam hati. Cuma karena dia udah nikah, jadi gue gak boleh manggil dia dengan panggilan “sayang” waktu kita pacaran dulu, gitu? Sementara gue gak tau nama apa yang harus gue pakai buat manggil dia, karena gue sama sekali gak ada referensi soal dunia-nya sekarang. Dan kayanya rada kaku aja gitu, manggil orang yang udah kita kenal sejak lama dan pernah ada di hati kita, dengan sebutan lain yang asing kita ucapkan.

Ada apa sih dengan cowok-cowok itu? Ada apa dengan orang-orang yang udah menikah? Kenapa harus berubah? Kenapa mereka harus mengganti identitas lama dengan identitas baru yang ngebuat mereka jadi terlihat asing?  Seolah-olah mereka “nge-deny” masa lalu mereka sendiri.

Gue jadi inget sama temen-temen gue yang juga udah pada merit. Everything`s change! Sepupu gue yang tadinya langsing dan cantik jelita langsung menjelma jadi badut sirkus dan selalu ngebawa bayinya pake gendongan batik, mirip “emak-emak”. Temen baik gue yang tadinya selalu sibuk dengan organisasi inilah itulah dan supel berat, langsung menarik diri dari kehidupan sosialnya dan berubah jadi “cewek rumahan” yang taunya cuma seputar infotainment dan sinetron religius. Sobat kental gue yang tadinya gaul abis dengan penampilan ala breaker dan fashionista abis, langsung berubah jadi orang kantoran dengan dasi yang melingkar di kemeja yang disetrika rapih dan celana bahan serta sepatu pantofel mengkilat (bener gak nulis pantofel-nya?).

I said: “Wow!!!!”
Jangan-jangan selama ini kehidupan pernikahan gue emang gak “normal” ya?
Kita udah hampir 2 tahun nikah, tapi gue masih doyan nonton bokep gay malem-malem. Masih sering curhat soal cowok ini, cowok itu ke suami gue. Masih doyan tebar pesona sambil ngecengin cowok botak berjenggot atau asik curi-curi kesempatan “gerepe-gerepe” cowok Bounty yang seksi berat. Sementara suami gue masih doyan melototin cewek bule bugil yang asik berjemur di pantai, ngomentarin penari telanjang yang bikin ngiler, atau tetep asik nonton bola, tinju, balap mobil dan berjuta kegiatan lainnya yang udah hampir pasti gue gak minat buat ikut terlibat.

Are we a psycho family? Atau justru kehidupan rumah tangga temen-temen gue itu yang gak normal? How`s the rule anyway? Apa setelah menikah, sang istri gak boleh lagi flirting ke cowok lain? Apa setelah menikah sang suami haram buat cerita mantan-mantannya lagi ke sang istri? Apa setelah nikah sang suami yang tadinya liar, langsung menjelma jadi bapak yang berwibawa pas udah punya anak? Apa setelah nikah sang istri cuma bisa berkhayal soal mimpi-mimpinya yang belum tercapai dan tabu buat direalisasikan?

Kenapa banyak orang terlalu serius “melihat” dan menjalani suatu pernikahan ya?

Apa mungkin gara-gara pernikahan terlalu didramatisir, banyak yang jadi perawan tua dan akhirnya terpaksa menikah karena dikejar umur dan rongrongan keluarga? Apa mungkin gara-gara itu juga, banyak yang jadi bujang lapuk yang terpaksa kerja di tempat membosankan yang dia benci seuumur hidup cuma karena calon mertua mensyaratkan sang cowok harus punya pekerjaan tetap, kalau dia berniat menikahi anaknya? Apa karena itu juga, cewek dan cowok yang terpaksa nikah dengan alasan apapun (meskipun tau persis kalo mereka sama-sama gak cocok), berubah menjadi sosok orangtua yang jaim (alias jaga image) di depan anak-anaknya, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan borok-borok di masa lampau, supaya dibilang orangtua yang bisa ngedidik anak? Padahal mereka merasa tersiksa dan semakin tidak mengenal diri mereka sendiri karena pada akhirnya apapun yang mereka lakukan hanya berpatokan pada komentar orang-orang sekitar. Hanya berdasarkan komentar masyarakat meskipun masih belum jelas masyarakat yang mana yang berkomentar? Dan pada akhirnya mereka membesarkan anak-anak yang akhirnya menjelma seperti mereka lagi, yang menipu diri sendiri dan tampak normal terlihat dari luar.

Dan sejarah pun terulang kembali…

Posted by Liza in 02:04:02 | Permalink | No Comments »

Friday, January 9, 2009

Aku menemukanmu

            Entah sejak kapan aku merasa setenang ini. Seumur hidup aku tidak pernah merasa lega, bebas dan lepas seperti sekarang ini. Badan terasa ringan dan jiwa terasa lapang. Padahal sebelumnya, selama aku menikah dan hidup bahagia, sesekali, aku pernah merasa kesepian. Rasanya aku merindukan sesuatu, tapi aku bahkan tak pernah tahu apa yang kurindukan. Mungkinkah aku merindukanmu, Tuhan? Ya bisa saja. Bukan hanya mungkin, tetapi pasti. Apalagi yang bisa kurindukan selain dirimu?

            Sejak aku menikah, sejak aku punya anak, aku benar-benar merasa bahagia, luar dan dalam. Bagaikan cerita Cinderella yang hanya tahu bahwa hidup adalah sebuah penderitaan sampai kemudian bertemu dan menikah dengan prince charming, and they live happily ever after. Aku pun merasa begitu. Dan aku tahu persis, betapa jarang (dan mungkin hampir tidak ada), pasangan yang benar-benar merasa bebas setelah menikah.

Sepupuku yang pacaran 10 tahun sebelum akhirnya menikahi pacarnya pernah berkata, “mana ada orang yang tidak punya rahasia, bahkan dengan pasangan kita sendiripun harus ada yang disembunyikan.” Lantas aku merasa heran dengan ketidaknormalan hidup kami. Karena sesungguhnya sampai sekarang aku sama sekali tidak pernah merahasiakan apapun pada suamiku. Dia juga tidak pernah merasa harus menyembunyikan sesuatu padaku. Toh, jika kami berkata jujur, satu sama lain tidak ada yang merasa keberatan, kenapa harus berbohong? Saat dia birahi melihat perempuan lain, aku tahu dan tidak sedikitpun merasa cemburu, karena memang tidak perlu. Aku memahami nalurinya. Dia bahkan tahu saat aku masih memiliki perasaan khusus terhadap mantan pacarku. Dan begitu juga sebaliknya. Maka ketika tidak setitik pun aku rahasiakan padanya, aku merasa hidup tanpa beban, tanpa tekanan. Hanya ada cinta kasih tanpa tuntutan dan tanpa mengharap imbalan.

Betapa banyak pasangan menikah bagaikan air dan minyak dalam satu gelas, sebagian pasangan menikah seperti air dan pasir dalam gelas, tetapi hanya sedikit pasangan menikah seperti air dan gula. Menyatu dan larut sepenuhnya. Tidak ada lagi “aku” dan “kamu”, tetapi hanya ada “kami”. Seperti aku dan suamiku, kami adalah jenis pasangan yang terakhir.

            Dan dengan keadaan seperti itupun, hidup tanpa beban, hidup tanpa tekanan, hidup dalam kemewahan yang orang lain jarang rasakan, aku masih pernah, sesekali, merasakan kesepian. Aku sangat merindukan sesuatu. Dan suamiku tahu. Dan dia berusaha membantu, mencari pemahaman yang mendalam tentang kerinduanku. Tetapi semua yang dilakukannya terasa belum cukup, terasa masih ada yang kurang. Maka aku pun semakin berusaha, mencari jauh sampai ke pelosok, tetapi tidak ada. Hasilnya nihil.

            Sampai akhirnya aku menyerah. Aku pasrah. Aku ikuti instingku dan kujalani naluriku. Jauh lebih mudah bagiku mengikuti naluri hewani. Makan, minum, buang air, kawin, melahirkan, menyusui, begitu mudahnya kulakukan. Tetapi naluri manusiawi? Akankah semudah itu?

            Maka aku perhatikan detail-detail kehidupan. Kuamati dan kutemukan bahwa warna hijau pada setiap daun ternyata tidak sama. Ternyata aku begitu butanya. Hijau yang selama ini seragam di mataku, ternyata hijau yang jauh berbeda. Begitu juga dengan bentuknya. Mengapa selama ini aku tidak pernah menyadari betapa bentuk daun, yang berbeda satu sama lain, yang punya keunikan tersendiri, tidak pernah terperhatikan oleh mata ini, mata yang terpasang di wajah selama berpuluh tahun. Mata yang sama. Lalu kututup mata dan kupasang baik-baik telingaku. Terperangahlah aku pada irama mengagumkan dari daun-daun yang bergesekan tertiup angin. Kemudian kurapatkan hidungku padanya dan kudapati aroma yang luar biasa. Dan embun yang membentuk bulatan-bulatan kecil di atasnya, terasa segar di lidahku.

Tiba-tiba terdengar suara Master Yoda di kepalaku, “Manusia adalah makhluk spiritual.” Dan aku merasa terlahir kembali. Kembali seperti anak-anak yang polos. Anak-anak yang terus belajar dari awal, dari permulaan. Mengamati banyak hal, memperhatikan sesuatu dan tiba-tiba saja semua detail-detail kecil kehidupan ini begitu menarik. Debu-debu yang beterbangan di jalan seakan menari selaras dengan langkah manusia. Lebah dan kupu-kupu yang bergantian menghisap nektar pada bunga seolah berdansa dengan irama yang dinamis. Aku semakin terpesona dengan gerak kehidupan. Dan aku, sama seperti anakku, bersama kami bergandengan tangan, bersatu mengagumi keindahan alam. Naluri alamiku, yang ada pada diriku sejak aku lahir, yang sempat hilang sedikit demi sedikit dan akhirnya lenyap sama sekali, akhirnya telah kembali. Dan siapa yang harus bertanggungjawab, hei manusia! Manusia-manusia yang pertumbuhannya telah terhenti, yang mengaku paling tahu dan mendikte hidupku selama ini. Tanyalah pada dirimu hai manusia berbada besar berotak kerdil! Aku salahkan kamu, hei orangtua! Aku salahkan kamu, hei lingkungan! Aku salahkan kamu, hei pemerintah! Yang membuat aturan-aturan demi kepentingan pribadi. Bukan, bukan. Aku koreksi. Bukan demi kepentingan pribadi, tetapi demi kepentingan hewanimu. Manusia-manusia yang menimbun harta, ikuti terus naluri hewanimu, maka kau tidak akan menemukan apapun, selain rasa hampa. Kau akan dapatkan kemasyuran, kehormatan dan rasa segan yang semu. Dan kau akan menua. Dan aku tidak ingin, tidak ingin sepertimu. Seperti saat umur kronologismu bertambah, menggerogoti umur psikologismu. Saat kau sudah terlalu lemah, sendi-sendimu telah berkarat, tubuhmu telah mengkerut dan otakmu telah layu kau akan menyesal, saudaraku. Kau akan menyesali banyak hal, tetapi tidak mampu menemukan akar penyebab  penyesalanmu, pun penyelesaiannya. Karena telah kau sia-siakan berkah masa mudamu untuk sesuatu yang tidak akan kau bawa mati. Maka saat maut begitu dekat, kau pun takut, meronta, tidak siap dan mulutmu megap-megap mengumandangkan ayat-ayat suci. Apa kau pikir ayat-ayat suci itu akan mengusir maut persis sama seperti mengusir setan dalam tontonan palsu yang kau lihat selama ini?

            Mengapa, mengapa tidak kau latih kepekaanmu? Mengapa kau tidak berusaha memahami manusia? Bahkan tumbuhan saja begitu uniknya, pun bintang dengan sistem tubuh beserta insting-instingnya. Bagaimana dengan manusia? Dibutuhkan begitu banyaknya perangkat, begitu banyaknya pelajaran, begitu banyaknya wawasan, begitu banyaknya pengalaman dan begitu banyaknya kedewasaan hanya untuk memahami satu manusia saja. Bahkan untuk memahami diri sendiri begitu sulitnya, mungkinkah memahami manusia lain? Manusia seperti aku, yang bicara, yang menuduh, yang merasa bahwa kehidupanku lebih layak darimu. Manusia yang bahkan belum tentu lebih baik darimu. Tambah satu manusia, tambah satu manusia, tambah satu manusia, tambah satu manusia, dan kau akan lihat berapa banyak manusia yang ada dalam keluargamu, yang ada dalam lingkungan tempat tinggalmu, yang ada di negaramu dan yang memenuhi isi bumi ini.

Maka aku kembali ke titik nol. Kembali ke kekosongan, kembali ke sebuah ruang hampa sebelum ada segala. Kulepaskan ketakutanku. Kulepaskan surga dan neraka dalam pikiranku. Kulepaskan nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan, dugaan-dugaan, tuduhan-tuduhan, ancaman-ancaman yang ditanamkan padaku sejak aku lahir. Kulepaskan semuanya dan aku berusaha lebih dalam memahaminya. Entah bagaimana caranya, sedikitnya aku merasakan kegelisahan dan rasa tertekan dalam diri manusia. Betapa rumitnya lapisan-lapisan yang ada dalam diri mereka yang membuat beban hidup semakin besar dan standar hidup semakin tinggi. Peradaban boleh makin maju, teknologi boleh makin canggih, tetapi manusia tetap sama. Manusia yang itu-itu juga. Dan sedikit demi sedikit aku pun semakin dapat memahami diriku sendiri. Aku mengenal diriku melalui mereka. Dan aku pun merasa semakin dekat dengan yang kurindukan. Semakin lama aku semakin menyadari bahwa selama ini dia tidak kemana-mana. Dia selalu ada. Tidak jauh, tidak kemana-mana. Selalu ada. Begitu dekat, tidak kemana-mana. Selalu ada. Tidak kemana-mana. Selalu ada. Tidak kemana-mana. Selalu ada.

            Dia adalah nuraniku, dia adalah jiwaku, dia adalah aku. Yang mencegah keinginan bunuh diri saat beban hidup masa kecil begitu besar, yang sanggup menolak narkoba saat semua sahabat menerimanya, yang mampu menghentikan kebiasaan merokok, yang berani menikahi orang yang baru kukenal dan yang selalu membangunkanku di waktu yang kuinginkan.

 Dia tidak pernah sedikitpun mengatur gerak langkahku, karena dia adalah gerak langkah itu sendiri.

Dia tidak pernah menunjukkan jalan padaku, karena dia adalah keputusan itu sendiri.

Dia tidak pernah menemaniku bernapas, karena dia adalah nafas itu sendiri.

Dia tidak pernah memandu pikiranku, karena dia adalah pikiran itu sendiri.

Dia tidak pernah membisikiku, karena dia adalah suara hati itu sendiri.

 

Dia tidak pernah memberikan apapun padaku, karena dia adalah aku yang menyediakannya untukku.

Dia tidak perlu repot-repot menghukumku karena dia adalah aku yang menghukum diriku sendiri.

Dia tidak pernah mengawasiku, karena dia adalah aku yang mengawasi diri ini.

Dia tidak pernah menjagaku, karena dia adalah aku yang menjaga tubuh ini.

Dia tidak pernah dan tidak akan pernah ada dimanapun kecuali jiwa ini sendiri.


Karena, itu, semuanya, dia begitu dekatnya. Dia bahkan tidak pernah terpisah dariku atau sengaja meninggalkanku, karena aku dan dia adalah satu.

Semakin lama aku semakin ringan. Terbang bersama debu, menari bersama alam. Hidupku lengkap sudah. Hidup berbahagia. Tidak pernah merasa kesepian lagi. Tidak pernah merasa hampa lagi. Karena kebutuhan hewani dan kebutuhan manusiawi telah kupenuhi. Dan jadilah aku, manusia spiritual, yang setiap detik pengalaman adalah sebuah keajaiban.     

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted by Liza in 11:03:06 | Permalink | No Comments »

Thursday, April 17, 2008

Sang Penemu

Sebulan yang lalu…
Pagi-pagi gue beserta anak tercinta, Qiu Mattane Lao nemuin belut gede banget, menggelepar-gelepar di depan Bounty. Dengan susah payah, kita berdua nangkep tuh belut dan masukin ke dalam kantong kresek yang kita ambil dari bak sampah. Lumayan banget, kita gak usah belanja buat makan, karena tuh belut saking gedenya cukup buat makan kita bertiga (gue, suami, anak) seharian.

Seminggu yang lalu…
Waktu gue nemenin Qiu main sepeda di lapangan, kita ketemu mangga 2 biji jatuh dari pohonnya. Wuihhh… mangganya gede, kenyal dan manis.

Kemarin…
Suami gue nemu ikan gurame gede dan mulus menggelepar di jalan keluar komplek perumahan kita. Suami gue niat buat ngegoreng, sementara gue dan Qiu pengen masukin tuh ikan ke dalam aquarium. Suara terbanyak yang menang. Alhasil tuh gurame bergabung dengan ikan mas dan ikan sapu-sapu penghuni aquarium di rumah gue. U know what… padahal tuh ikan anak baru, tapi malah dengan liarnya dia ngejar2 ikan mas penghuni lama, dasar gurame preman!

Posted by Liza in 05:54:40 | Permalink | No Comments »

Friday, August 17, 2007

Siap grak…!!!

Pemandangan terkocak yang gue temuin seharian ini adalah Upacara Penurunan Bendera oleh para warga di kompleks perumahan tempat gue tinggal di sore hari. 

Keadaannya seperti ini:

Yang jadi Pembina upacara adalah Pak RT berkaos polo merah dan celana training putih lengkap dengan topi merah bertuliskan “Jiggy-Jig”.

Yang menjadi Komandan upacaranya adalah kakek-kakek sebelah rumah yang setiap pagi gue lihat nemenin cucunya jalan kaki di seputar komplek. Kali ini dia bercelana training hijau spotlight berdiri gagah di tengah lapangan.

Pasukan penurunan bendera yang langsung dicomot on the spot dan diajarin baris-berbaris saat itu juga terdiri dari ABG anak SMP tetangga blok sebelah pake tank top kuning dan celana jins ketat sebagai komandan pasukan, terus anak kuliahan tetangga depan dengan terusan batik kusam di sebelah kiri dan sebelah kanannya adalah pembokat tetangga sebelah rumah yang mengenakan terusan butut.

Yang ikut berbaris adalah beberapa warga yang gak sempet kabur setelah segala jenis perlombaan 17 Agustus-an selesai. Ada suami gue yang pake kaos butut oranye plus celana pendek dan sandal jepit, ada bapak seniman gondrong yang tinggal di depan garmen berkaus kutung dan celana batik 7/8 pake kacamata hitam ala Cobra, ada para tukang sendal yang kerja di garmen kita dengan pakaian dan badan belepotan debu karet amplasan sandal, ada bapak-bapak yang perutnya kemana-mana, ada anak-anak kecil yang ikut-ikutan berdiri tegap dalam barisan -yang kerapiannya hanya bertahan dalam hitungan detik- dan sisanya adalah ibu-ibu dan para pembokat yang memakai kaos dan celana training serta daster Bali warna-warni.

Semuanya kelihatan terpaksa dengan ekspresi -buruan deh nurunin benderanya gue udah laper, capek dan pegel- yang seragam.

Sayang banget handycam kebetulan lagi error. Kalo enggak, gue bakal dapet gambar yang bagus banget buat dikirim ke festival film 1 menit di Belanda (www.theoneminutes.org).

Posted by Liza in 07:14:01 | Permalink | No Comments »

Sunday, April 2, 2006

ANAK SETAN BERANAK SETAN

(sebuah plesetan iseng dari film dokumenter “Anak Naga Beranak Naga”, sutradara: Ariani Darmawan) 

 

Di siang hari bolong, di tengah-tengah pembakaran jerami setelah panen padi… gue dan suami yang lagi berasyik masyuk, berleha-leha, bermesraan di kamar terlibat pembicaraan iseng yang rupanya berbuntut serius. Di bawah ini adalah hasil percakapan dua manusia yang sudah ditakdirkan untuk hidup bersama. Selamat menikmati!

Suami: “Aku gak habis pikir sama sekolahannya Matanlo. Banyakkan baby sitter-nya  daripada anak-anak yang sekolah di sana.”

Gue: “Ya… namanya juga sekolah mahal. Yang sekolahin anak-anak di situ ya yang tajir lah, yang mampu bayar berjuta-juta baby sitter buat ngurusin anaknya.”

Suami: “Kalo dipikir-pikir aneh juga ya sama baby sitter itu. Kok mau-maunya jadi pembantu pake seragam putih gitu. Bukannya makin menunjukkan jati dirinya kalo dia itu pembantu.”

Gue: “Loh! Emang kamu belum tau ya? Justru orang bangga pake baju baby sitter itu, karena kesannya keren kerja sama orang kaya. Dulu aku inget banget waktu mama pengen beliin baju putih gitu, trus dipakein ke mbak yang ngurusin Irvan Devi, biar kesannya dibilang orang, keluarga kita orang kaya. Di Jakarta khan gitu ya, kalo ada keluarga bawa-bawa baby sitter buat ngurusin anaknya, kesannya keluarga itu kaya. Di Jakarta sih penting banget penilaian orang. Mungkin di sana semua orang hidup dari penilaian orang lain kali ya?”

Suami: “Hah??!? Yang bener?? Aneh banget. Aku malah ngeliat pembantu yang pake baju biasa, lebih terhormat daripada baby sitter. Soalnya tuh pembantu khan sama-sama pake baju biasa sama dengan majikannya. Justru aku ngeliat baby sitter dipakein seragam putih, malah merasa terhina karena makin menunjukkan jati dirinya, bahwa dia itu jongos.”

Gue: “Ck… ck… ck… jadi kamu baru tahu? Makanya waktu mama belum sempet beliin baju putih sama mbak, kita-kita maksa mama terus-terusan buat beliin baju putih untuk mbak biar kalo kita jalan-jalan ke mall, orang-orang nyangka kita orang kaya. Mbak-nya juga ikut-ikutan maksa mama beliin baju putih gituh, biar derajatnya terangkat kali yey. Soalnya derajat baby sitter itu lebih tinggi daripada pembantu. Mama khan OGI (Ogah ruGI-red), jadi ya biar keliatan tajir, mbak dipakein baju putih kaya baby sitter, tapi bayaran dan kerjaan-nya sama dengan pembantu. Gengsi dapet, gak perlu bayar mahal dan semua kerjaan rumah dikerjain sama mbak. Soalnya mama gak mau kalo mempekerjakan baby sitter beneran, secara gaji baby sitter mahal mampus. Udah gitu baby sitter itu cuma mau ngurusin anak aja dan gak mau dikasih kerjaan lain, kata mama:”sombong banget!”.

Suami: “Masa sih? Segitu pentingnya anggapan orang??” 

Gue: “Ya gitu deh. Banyak keluarga yang sebenernya gak butuh baby sitter, tapi karena gengsi jadinya ikut latah. Begitu anaknya lahir, langsung sewa baby sitter. Malah sekarang baby sitter aja udah ada tingkatan-tingkatannya gituh. Udah ada baby sitter yang dikasih pelatihan khusus buat ngurusin anak-anak. Udah ada baby sitter yang menguasai 2 atau lebih bahasa asing. Tentu aja gajinya lebih mahal lagi. Jadi baby sitter itu kira-kira setingkat sama suster ato perawat gitu deh. Makanya mbak yang ngurusin Irvan Devi waktu itu gak masalah tetap ngerjain pekerjaan rumah tangga, tapi setidaknya orang ngeliat dia keren gitu. Kalo di rumah boleh deh dia pembantu, tapi di luar orang ngeliat mbak sebagai baby sitter. Kalo sekarang aku pikir, emang aneh banget ya!”

Suami: “Huahuahuahuahuahua… bener-bener gak masuk akal. Dunia udah terbolak-balik apa ya? Aku selama ini mandang rendah orang-orang yang punya baby sitter buat ngurus anaknya. Seolah-olah fungsi majikannya cuma buat ngelahirin anaknya doang. Mending kalo majikannya kerja, kadang-kadang majikannya jalan-jalan ke mall sama anaknya, tapi anaknya digendong sama baby sitter. Trus majikannya melenggang kangkung gak peduli sama anaknya, seolah-olah itu bukan anaknya. Dan anaknya juga keliatan asing sama ibunya, karena sepanjang waktu sama baby sitter.”

Gue: “Malah sekarang pakaian baby sitter udah gak melulu putih loh! Ada yang pink panther, ijo pupus, kuning tokai, biru bluwek… pokoknya macem-macem deh. Terus udah dimodifikasi gitu. Ada yang pake renda-renda, ada yang disablon pake gambar beruang, hello kitty, macem-macem lah. Malah majikan yang pengen dibilang kaya, ada juga yang gak nanggung-nanggung ngedandanin baby sitter pake pakaian yang ada monte-montenya. Ampun deh! Mau nge-dangdut dimana neng? Emang sih udah ada baby sitter yang sekarang pake celana panjang, tapi kebanyakan masih doyan pake rok gitu. Gak praktis banget khan? Inget gak di sekolahan Matanlo, baby sitter-nya yang ribet sendiri sama rok-nya. Celana dalem keliatan kemana-mana, udah gitu geraknya juga terhambat. Padahal khan yang diurusin anak kecil yang kelakuannya gak jauh beda sama anak monyet. Lari sana lari sini, loncat sana loncat sini. Terus siapa ya yang nyiptain tuh pakaian baby sitter pertama kali ya? Kok bahannya bukan katun, supaya bisa nyerap keringet. Baby sitter khan kerjanya mobile gituh. Oh aku tau…! Mungkin prinsip pakaian baby sitter itu: “biar tersiksa asal gaya, kali ya?”

Suami: “Hahahahaha… biar mati asal stunt! Dan sampai detik ini pun aku tetap gak bisa ngeliat letak keren-nya punya baby sitter.”

Gue: “Iya ya. Tapi emang di Jakarta, orang-orang ngerasa keren kalo punya baby sitter karena baby sitter itu khan ada yayasan khusus dengan manajemen yang jelas dan rapi. Beda sama pembantu yang melalui yayasan yang tempatnya mirip rumah bordil dengan bilik-bilik gituh. Kalo baby sitter khan tempatnya aja ber-AC. Udah gitu ada surat-surat resmi dari yayasan-nya. Pembantu mana kaya gitu? Begitu diambil sama majikannya, nasib tuh pembantu di tangan majikan. Mau disiram air panas kek, mau disetrika kek, mau disiksa kek… udah gak ada urusan lagi sama yayasannya. Kalo baby sitter khan gak bisa begitu. Inget gak infotainment gak penting yang kita tonton waktu itu? Yang kasus pemilik yayasan menuntut Krisdayanti soal baby sitter yang ngurusin anak-anaknya KD?”

Suami: “Iya… iya inget. Yang gembar-gembor katanya dia nuntut KD bukan karena nyari popularitas. Menurut dia orang-orang juga udah pada tau kalo dia sebelumnya udah terkenal. Huahuahuahua… orang-orang udah pada tau kalo dia itu penyanyi, katanya.”

Gue: “Waktu aku tinggal di Jakarta, aku pikir punya baby sitter adalah suatu kebanggaan. Tapi sekarang? Ck… ck… ck… Aku mikir, aneh banget dulu aku pernah berpikiran begitu. Konyol!”

Suami gue senyum… percakapan selesai… selanjutnya? Terserah anda!

Posted by Liza in 07:16:09 | Permalink | No Comments »

Sunday, February 19, 2006

Lo pikir ngomong jujur itu gampang?

Tanggal: 18 Februari 2006   Waktu: 02.00 WITA

Setelah kita pulang dari hotel tempat adik gue bulan madu, ban motor kita kempes di tengah jalan. Jarak dari lokasi ban kempes ke rumah kira-kira satu setengah kilometer. Alhasil kita sukses berjalan kaki di tengah malam buta, di antara perumahan jarang-jarang dan persawahan sunyi dalam situasi suami ngedorong motor dan gue ngegendong Matanlo. Sementara itu saudara-saudara… di Bali, makhluk hidup berjudul “anjing” adalah pentolan, preman serta penguasa jalanan di malam hari. Jadi waktu kita lagi enak-enaknya olah raga malam, tiba-tiba kita dikejutin sama satu suara gonggongan. Terus disusul gonggongan lain dan kemudian kita udah dikepung pasukan anjing dari empat penjuru. Dalam keadaan kritis itu kita memutuskan untuk menaiki motor yang bannya kempes. Jadilah dengan keadaan ban motor kempes, laju motor pas-pasan dan ogel-ogel di jalanan sepi, gue, suami dan Matanlo dikejar-kejar segerombolan anjing berwajah seram dan beraura horor.

Sukurlah untuk sementara kita berhasil lolos dengan selamat. Tapi perseteruan kita sekeluarga dengan makhluk yang nama latinnnya Canis ini belum selesai. Waktu kita sampai di mulut gang, kita terpaksa harus turun dari motor karena jalanan di gang menuju rumah gue yang di tengah sawah ini nggak diaspal dan bergelombang. Jadi mau nggak mau kita harus jalan kaki (lagi!) yang artinya kita harus fight face to face dengan para anjing tetangga sepanjang 150 meter. Setiap langkah kita diiringi dengan suara gonggongan anjing. Suami gue ngedorong motor sambil megangin batu buat nakut-nakutin anjing, sementara gue jalan di depan ngegendong Matanlo sambil berteriak panik tiap ada anjing yang mencoba mengejar. Acara kejar-mengejar pun berakhir setelah kita masuk rumah.

Kebetulan belakangan ini gue lagi doyan uring-uringan (mungkin penyebabnya karena lagi error atau lagi PMS kali yey!). Jadi begitu sampai di rumah dengan emosi berapi dan semangat menggebu, gue menyalahkan suami karena udah bikin ban motor kempes serta gak berusaha keras buat menyelamatkan gue dan Matanlo yang duduk di belakang motor dan hampir digigit anjing. Biasanya kita langsung membahas suatu masalah saat itu juga, karena gue paling males membiarkan suatu masalah jadi panjang dan berlarut-larut. Tapi jam sudah menunjukkan waktu “imsak”, gue terpaksa membiarkan suami tidur di kamar sebelah (deuuu, pisah ranjang nih ceritanya…!)

Tanggal: 18 Februari 2006 Waktu: 08.00 WITA

Setelah suami balik dari tambal ban motor, gue menyambut suami dengan perasaan bersalah dan wajah penuh penyesalan. Karena suasana hati udah lebih enak dan karena kepala udah gak “panas” lagi, kita berdua mulai sharing, diskusi dan mencari solusi. Kita berdua mulai menguraikan satu persatu masalah-masalah kita sampai akhirnya menemukan akar permasalahannya, yaitu: GUE LAGI JENUH SAMA MATANLO. What the…? Impossible! Orang yang kenal gue pasti gak bakal percaya kalo seorang Liza Irman, bunda yang baik, yang gak pernah marah sama anaknya, yang punya kesabaran ekstra menghadapi anaknya sendiri, yang punya rasa sayang luar biasa sama Matanlo… bisa juga jenuh??? Bo`ong banget! Yup… tapi itulah kenyataannya dan jujur aja, berat banget buat mengakui ke suami kalo gue lagi males ngurusin Matanlo. Dibutuhkan keberanian besar buat mengakui apa yang kita rasakan ke orang lain karena di saat yang bersamaan kita juga harus mengakuinya pada diri kita sendiri.

Karena sakit estafet (dimulai dari Matanlo yang sakit, trus gue, trus Matanlo lagi, trus suami, dan ditutup dengan Matanlo lagi) dan ditambah dengan kepergian ke Jakarta yang sangat nggak kondusif, ngebuat kita udah hampir sebulan nggak pernah membicarakan kegelisahan-kegelisahan kita dan apa yang kita rasakan masing-masing dari hati ke hati. Dari hasil pembicaraan ini, ketahuan kalo sumber dari rasa sebel suami ke gue adalah akibat dia ngerasa gue nggak tulus ngurusin dia sewaktu sakit.

Menurut suami gue, waktu dia sakit gue bukannya melayani dia dengan penuh kelembutan, tapi malah ngomel-ngomel maksa dia cepat sembuh. Sehingga waktu tadi malam gue uring-uringan dan menyalahkan suami abis dikejar anjing, suami langsung mengaitkan dengan perlakuan gue saat dia sakit. Trus kejadian-kejadian kecil yang bikin gue ngomel seperti: waktu dia lupa nutup pintu, gak sengaja numpahin air, mencet odol dari tengah dan bukan dari ujung seperti mau gue, secara manis berkolaborasi membentuk citra buruk gue di mata suami. Suami lalu menyimpulkan kalo gue sayang sama dia cuma saat dia bersikap, berkelakuan dan bertindak sesuai mau gue. Sebaliknya waktu dia nggak mampu memenuhi harapan gue, gue bakal seenaknya ngomel-ngomel, maki-maki, mendesak, memojokkan dan menyalahkan dia.

Well, itu perasaan suami ketika belum tau alasan apa sebenarnya yang memicu sikap nyebelin gue, meskipun dia tau pasti ada hal lain yang belum terselesaikan sehingga menyebabkan sikap nyebelin gue itu keluar. Untuk itulah kita perlu bicara.

Lalu gue pun ngejelasin apa yang gue rasain. Gue ngerasa suami gak peka dan gak ngertiin gue yang lagi jenuh ngurusin Matanlo. Sebenarnya waktu suami lagi sakit, gue lagi ngerasa bosen sama Matanlo, tapi apa yang gue rasakan itu belum sempet gue ceritain ke suami. Gue udah ngerasain hal ini sejak Matanlo sakit dan maunya nempel terus sama gue dan disaat bersamaan gue juga harus terus beradaptasi dengan perkembangan kognitifnya. Sejak itu gue men-deny rasa bosen, capek, jenuh dan rasa-rasa lainnya yang harom diungkapkan, karena gue pengen Matanlo punya bunda yang “beda” dari bunda-bunda lain di seluruh dunia. Gue pengen Matanlo punya bunda yang asik yang bisa diajak ngobrol, curhat, diskusi dan gue juga pengen jadi sahabat baiknya. Selain itu gue juga pengen Matanlo ngerasain bahwa tempat yang paling nyaman di seluruh dunia adalah rumahnya sendiri karena dari kecil gue gak pernah merasakan itu semua.

Padahal gue pengen membesarkan Matanlo jadi manusia. Tapi gue lupa menyadari bahwa karena gue pengen selalu terlihat “baik” di mata Matanlo, ketika gue lagi dilanda kejenuhan tanpa sadar gue berpura-pura baik. Akibatnya gue malah gampang emosi, sering uring-uringan dan menyalahkan orang lain. Akibatnya hubungan gue sama suami terganggu, hubungan gue sama Matanlo terganggu dan hubungan gue dengan diri gue sendiri pun ikut-ikutan terganggu. Padahal ada kalanya gue mencapai titik jenuh (manusiawi toh!) dan pada saat gue berani mengakui hal tersebut, keadaan justru malah jadi jauh lebih baik.

Dengan kita ngomong secara jujur dan nggak terperangkap dalam dogma-dogma dan norma yang mengharuskan ini itu dan men-judge seperti ini buruk seperti itu baik, suami jadi ngerti kenapa akhir-akhir ini gue ngomel-ngomel terus. Matanlo gak rewel lagi karena suasana hati bunda-nya udah normal dan gue pun jadi lega karena gue jadi lebih sayang sama Matanlo. Pengakuan tadi bukan ngebuat kejenuhan gue jadi suatu “pembenaran”, tapi justru jadi suatu “kesadaran” kalau mau membesarkan manusia menjadi manusia, jadilah manusia.

Sejak awal menikah kita berdua sadar sesadar-sadarnya kalo dalam perjalanan rumah tangga, konflik seperti ini bakal sering terjadi. Keadaan seperti ini akan berulang terus-menerus karena kita hidup dalam suatu sistem, norma-norma dan aturan masyarakat yang gak bisa ditawar-tawar lagi. Sehingga mau gak mau, suka gak suka kita harus tetap memakai “topeng” yang berbeda-beda buat survive. Dengan kesadaran seperti itulah sejak awal kita berkomitmen untuk selalu membicarakan dengan jujur setiap ketidaknyamanan yang kita rasakan, baik itu terhadap pasangan, anak dan lingkungan. Karena kalau masalah-masalah yang dihadapi gak buru-buru diselesaikan, hasilnya ketidaknyamanan tadi bakalan bertumpuk-tumpuk. Ternyata dibalik masalah A, ada masalah B yang belum terselesaikan. Setelah selesai masalah B, ternyata masih ada masalah C yang lebih rumit lagi dibalik masalah B. Karena itu kita selalu ‘me-refresh‘ kebersamaan kita setiap kali kejenuhan dan kejengkelan muncul. Soalnya bukan apa-apa, kita berdua sadar setiap ledakan emosi dan kejengkelan nggak pernah berdiri sendiri dan muncul tiba-tiba, tapi selalu hanya berupa “puncak gunung es” yang terkait dan sambung-menyambung dengan masalah dan kejengkelan sebelumnya.

Nah… kita aja yang baru 2 minggu gak sempat ngobrol terbuka, udah banyak masalah yang bikin uring-uringan, apalagi kehidupan suami istri lain yang setiap hari pergi pagi pulang malem? Ketemu cuma 3-5 jam dan pembicaraan cuma sekedarnya. Bayangkan seperti apa dalam dan besarnya dasar “gunung es” masalah dan kejengkelan yang nggak kelihatan akibat sama sekali nggak pernah dikomunikasikan seumur pernikahan atau juga di-deny keberadaannya karena terikat/terjebak norma. Entah itu namanya istri harus patuh sama suami, suami harus wibawa di depan istri dan anak, orang tua harus sayang sama anak, anak harus hormat sama orang tua dan berjuta-juta keharusan-keharusan lainnya. Kebayang juga gak kehidupan artis yang terbiasa jadi “tontonan”? ada masalah dikit, ujung-ujungnya cerai karena si artis mikir: emang lo pikir lo siapa? Gue bisa dapetin 1000 orang kaya lo secara gue dipuja banyak orang. Ya sudahlah EGO berbicara…

Dengan belajar berani mengakui pada orang lain dan (terutama) pada diri sendiri apa yang sebenarnya kita rasakan, suatu saat kita menghadapi persoalan yang sama, kita udah langsung ngerti apa yang harus dilakukan. Jadi gak perlu buang-buang waktu dengan ngomel sana sini dan menyalahkan semua hal karena seolah-olah semua kelihatan salah di mata lo.

Mengutip dari salah satu buku yang pernah gue baca:

Ketakutan untuk berkata benar, menggunakan kemerdekaan berpikir & melakukan pilihan merupakan penyakit yang banyak melanda orang di banyak masyarakat saat ini.”

Nawal El Saadawi, catatan dari penjara perempuan, hal.viii, kata pengantar oleh. W.Hafidz.


Posted by Liza in 06:53:14 | Permalink | Comments (3)