Harap maklum!
Indonesia ada dengan sendirinya. Negara yang muncul tanpa konsep. Yang penting merdeka dulu. Urusan kebijakan, urusan undang-undang, urusan sistem, belakangan, nantinya ngikutin. Yang penting adil dan merata. Prinsip adil dan merata dalam mengatur manusia disamakan dengan prinsip itungan matematika: 10 dibagi 5 sama dengan 2. Kepadatan penduduk di Jawa diatasi dengan transmigrasi. Penduduk Jawa ditransfer ke daerah sini, daerah sono, daerah setuh. Sepintas kelihatan sukses, tapi dibalik itu malah muncul masalah prinsipil. Karena para pendatang sering berbuat seenaknya di daerah orang lain dan tidak menghormati adat istiadat yang berlaku di suatu daerah, akibatnya muncul konflik antar etnis, konflik agama, konflik, konflik dan konflik. Satu-satunya cara multifungsi buat mengatasinya adalah dengan kekuatan militer. Sekalian menyelesaikan masalah, sekalian tes penempatan, sekalian praktek ilmu. Nyawa manusia melayang gak ada harganya. Kuburan massal dimana-mana. HARAP MAKLUM!
Program yang dirancang (entah siapa yang merancang program ini tanpa memperhatikan aspek antropologis & psikososial terlebih dahulu) untuk mengurangi tekanan kepadatan penduduk dianggap berhasil (gak tau deh apa yang jadi tolak ukur keberhasilannya), tapi tidak dibarengi dengan pemerataan pembangunan. Papua yang jadi tambang emas terbesar di dunia (meskipun selama puluhan tahun kita “diajarin” kalau Papua kaya akan tembaga, sampai kota tempat tambang emasnya dikasih nama Tembagapura), tapi orang Papua sendiri hidup dibawah garis kemiskinan dengan kondisi gizi buruk, fasilitas kesehatan dan pendidikan minim. HARAP MAKLUM!
Aceh kaya akan hasil laut, bahan tambang, kayu, minyak dan gas. Tapi di Unsyiah (Universitas Syiah Kuala) malah tidak tersedia jurusan Pertambangan, Perminyakan, Kelautan dan Kehutanan meskipun pihak Unsyiah sudah berulang kali minta jurusan itu dibuka sejak jaman kapan. Efeknya, ketika di Aceh bermunculan perusahaan multinasional seperti jamur di musim hujan yang mengeksploitasi kekayaan alamnya, orang Aceh tidak bisa terlibat di dalamnya kecuali jadi penonton. Alasannya jelas, skill tidak mencukupi. Aceh yang pernah menjadi bangsa besar jauh sebelum Indonesia ada, memiliki sejarah perjuangan yang sangat panjang, kaya akan keragaman budaya dari beragam suku bangsa penduduknya. Tapi sampai detik tulisan ini dibuat, di Unsyiah belum ada jurusan Antropologi, Psikologi dan ironisnya dalam fakultas Sospol, hanya ada jurusan Ekonomi dan Hukum. Penuntutan hak yang dipandang sebagai pemberontakan, lagi-lagi diatasi dengan kekuatan militer. Media yang seharusnya menjadi alat untuk “membuka mata” masyarakat Indonesia khususnya, lumpuh total di area konflik ini. Gimana enggak? Wartawan yang benar-benar berniat meliput di Aceh harus selalu dikawal ketat oleh tentara. Wartawan yang cuma mau cari makan, ongkang-ongkang kaki di kamar hotel dengan berita yang di copy paste dari wartawan asing dan foto yang dibeli dari Reuters. HARAP MAKLUM!
Buruh tani di Jember dibayar hanya Rp.8.000,-/hari, dengan jam kerja dari pukul 8 pagi sampai jam 4 sore, tanpa uang makan. Begitu juga dengan buruh perkebunan kopi di Bondowoso yang bayarannya minim dan jam kerja tinggi. Pendapatan rata-rata masyarakat Indramayu sekitar Rp.4.000,-/hari dan tingkat pendidikan rata-rata hanya mencapai kelas 4 SD. Salah satu akibatnya banyak perempuan yang kemudian mencari nafkah sebagai PSK atau bahkan dijual oleh orangtua mereka ke germo. HARAP MAKLUM!
Soeharto mendapat penghargaan dan diakui dunia karena dianggap berhasil menekan pertumbuhan penduduk dengan cara Keluarga Berencana singkatnya KB. Orang yang tidak punya latar belakang pendidikan medis sekalipun, asalkan diberi instruksi sekedarnya oleh dokter, sudah legal memasang alat kontrasepsi di pelosok-pelosok desa. Akibatnya banyak ibunda yang meninggal dunia karena infeksi yang timbul akibat pemasangan alat kontrasepsi yang asal-asalan. Banyak juga yang merasa terpaksa untuk memasang alat kontrasepsi dengan alasan tidak enak jadi omongan tetangga kalau menolak untuk dipasang. Tingkat pertumbuhan berhasil ditekan seiring dengan tingginya tingkat kematian. HARAP MAKLUM!
Fasilitas pendidikan yang lebih baik cuma ada di kota besar. Fasilitas medik dan pelayanan kesehatan lebih baik dan lebih mudah diperoleh di daerah perkotaan dibanding pedesaan. Jakarta sebagai Primate City (kota tunggal utama) tidak dapat membendung arus urbanisasi. Muncul manusia-manusia tanpa identitas yang membangun “rumah kardus” dan menjadi penghuni liar selama puluhan tahun di bawah kolong jembatan, rel kereta api dan daerah pinggiran. Tinggal nunggu nasib buat digusur dengan alasan yang dibuat-buat seperti tidak adanya surat kepemilikan tanah yang sah. Padahal segepok uang udah masuk ke kantong pemerintah buat bikin mall, real estate yang justru semakin merusak tata kota. Jakarta, kota apartheid, tidak menyediakan lahan untuk orang miskin, tetapi selalu menerima banjir dengan tangan terbuka. HARAP MAKLUM!
Mau bikin KTP, birokrasi ribet (kalau ada yang susah, buat apa dipermudah?). Punya KTP pun gak terlalu berpengaruh, secara satu orang aja bisa bikin 20 KTP cuma dengan modal DUIT. Akibatnya masyarakat tidak terdata. Data manual bermetamorfosis menjadi komputerisasi cuma tinggal mimpi. Berurusan dengan KUA lebih repot lagi. Mau kawin dengan cara paling sederhana aja, biaya yang dikeluarkan untuk bayar penghulu tidak sedikit. Di kantor KUA bolehlah menulis biaya minim buat menikah, tapi gak jauh dari tulisan tersebut penghulu-nya gak malu-malu menyebut nominal angka uang dalam jumlah besar. Beda tempat, beda harga. Bagian menikahkan orang di gedung, bagiannya penghulu senior karena jumlah nominal paling tinggi. Ukurannya: jika MC dibayar 2 juta, maka penghulu harus 2 kali lipat. Setelah sepakat dengan angka yang disebutkan, dengan sok sucinya sang penghulu akan berkotbah tentang kewajiban istri terhadap suami, bagaimana membina rumah tangga yang sakinah, warohmah, mawaddah sambil tersenyum ala Rhoma Irama. HARAP MAKLUM!
Jargon-jargon seperti “hormati gurumu”, “guru adalah pahlawan tanda jasa” cuma jadi hiasan di dalam kelas. Pekerjaan guru yang identik dengan pekerjaan terpaksa karena IKIP identik dengan sekolah buangan, ngebuat mental guru semakin melempem. BOS yang sudah diberlakukan dan kebusukan-kebusukan dalam dunia pendidikan yang terus menerus menjadi sorotan media massa, ngebuat posisi guru semakin terdesak dan terpojok. Gaji tetep mini, mungil dan kecil, tapi harga barang terus melonjak tinggi. Harus pinter-pinter cari usaha sampingan dan harus punya banyak taktik dan cari celah buat nge-bisnis-in apa yang bisa di-bisnis-kan. Minta uang sama orangtua murid waktu kenaikan kelas udah gak pake malu-malu lagi. Ngomong ke orangtua buat ngebantuin anaknya masuk ke sekolah favorit lewat jalan belakang udah gak pake bisik-bisik lagi. Sekarang udah bukan jamannya ngasih kain atau beras ke guru sebagai tanda terima kasih. Kalau nasib anak mau tetap sejahtera, minimal ngasih handphone. Sekarang jaman teknologi bo! HARAP MAKLUM!
Sekalinya mau mendapat pendidikan berkualitas, di sekolah boafid dengan guru-guru yang bonafid perlu biaya besar. Perlu uang lebih, buat pamer asesoris, pamer pakaian, pamer kendaraan, pamer, pamer. Akibatnya “sekolah” cuma buat orang kaya yang duitnya didapat dengan menipu dan merampas hak orang. Orang miskin gak punya tempat buat sekedar icip-icip pendidikan. Jangankan buat sekolah, buat ganjel perut aja masih pas-pasan. Yang dilihat mata, orang kaya seliweran pake HP naik sedan. Yang didenger kuping, orang kaya dipuja, dipuji dan dijilat. Yang dihirup hidung, aroma bread talk dan kopi starbucks plus cemilan junkfood yang dikonsumsi oleh orang kaya. Perut makin keroncongan dan kecemburuan sosial gak bisa dibendung lagi. Akibatnya tingkat kriminalitas semakin tinggi. Karena yang jadi kriminal adalah orang miskin alias cuma modal nekat dan gak punya uang untuk “beli” pengacara, nasibnya dikebiri dan jadi kebanggaan para polisi buat diceritain ke anak cucu, tetangga-tetanggi, sodara-sodari karena berhasil menangkap maling kelas teri dan masuk TV. HARAP MAKLUM!
Banyak manusia yang memandang manusia lain ibarat lidi yang patah kalau cuma satu, tapi tidak bisa dipatahkan kalau banyak alias bersatu kita teguh bercerai kita runtuh alias bhineka tunggal ika. Manusia bisa diatur seperti itu kalau manusia seperti robot yang di-set sama, homogen. Sementara kembar identik sekalipun berbeda satu sama lain, apalagi antar manusia yang satu dengan manusia yang lain. Satu kepala banyak maunya, apalagi jutaan kepala. Beda etnis, beda budaya, beda maunya. Dipaksa buat nurut sama satu kebijakan yang berlaku untuk semua, akibatnya amburadul. Punya pemimpin yang niat mensejahterakan rakyat aja, masih ada yang ngerasa diperlakukan semena-mena. Apalagi kalo pemimpinnya lebih mementingkan ego di atas segalanya? Korupsi dimana-mana, hak orang banyak diambil. Orang yang menginjak-injak kehidupan orang lain demi nafsu sendiri, biar dijelasin sampe mampus juga gak bakalan ngerti. HARAP MAKLUM!